Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
(2 3 masuk Muhammadiyah karena mereka harus menyumbangkan waktu, uang dan tenaga. Perbedaan pokok antara NU dan Muham- madiyah adalah bahwa yang terakhir ini modern, sedangkan yang pertama kolot: Muhammadiyah ingin mempersatukan Timur dan Barat, NU hanya menginginkan Timur saja, NU mempunyai anggota sangat banyak, tetapi tidak banyak hasilnya. NU tidak menunjukkan kemajuan dan organisasinya buruk. Ia (Ketua sebelum perang, sekarang Wakil Ketua Nahdatul Ulama) mengatakan bahwa NU adalah organisasi kaum kolot, semua pemimpinnya kolot. Ketika ditanya apakah orang NU suka disebut kolot, ia mengatakan, “Iya, tentu saja”. Saya bertanya kepadanya, apa yang ia maksud dengan kolot. Kalanya, “Ya, misalnya kita suka mengadakan slametan, kita menyukai cara-cara lama, suka memakai sandal kayu dan sarung. Kita berpegang teguh kepada adat orangtua dan nenekmoyang." Saya bertanya apakah hanya orang tua dan orang desa saja yang kolot (karena ia mengatakan bahwa ia sudah tua serta ada banyak orang tua dan orang desa dalam NU). Bagaimana dengan pemuda kota seperti Rivai (Sekretaris NU)? Apakah ia juga kolot? Katanya, “Iya. Yang penting hatinya. Orang seperti Rivai memiliki hati yang dewasa: di dalam, dia itu kuno. Semua orang NU seperti itu”. Ia menyebut Menteri Agama sekarang, seorang NU juga dan mengatakan bahwa walaupun ia memakai dasi, jas dan celana panjang, hatinya kolot: di dalam ia adalah seorang kuno. la (seorang tukang jam dan anggota biasa Masyumi serta Muhammadiyah) menyebut daftar intelektual dengan gelar sarjana dalam Masyumi—Dr. Sukiman, Mr.' Rum, Mr. Yusuf Wibisono, Dr. A.R. Hanifah (semua pemimpin nasional Masyumi)—dan membandingkannya dengan NU yang hanya memiliki kiai dan sejenisnya, yang benar-benar tidak memiliki orang berpendidikan. Ia mengatakan bahwa NU lebih memperhatikan soal agama dibandingkan dengan Masyumi dan Masyumi lebih banyak mengurusi politik. Katanya, pemimpin-pemimpin NU tak diragukan cukup mendalam ilmu agamanya, tetapi mereka tak tahu urusan memimpin negara. Karenanya, kontras antara kaum modernis dengan konservatif tetap saja ada walaupun sudah diredam. Orang masih saja membedakan