Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Takdir versus Ikhtiar Kaum modernis seringkali mencemooh kepercayaan konservatif sebagai agama “kuburan dan ganjaran” (kuburan lan ganjaran), maksudnya bahwa agama itu terutama sekali berhubungan dengan kehidupan sesudah kematian dan usaha memperoleh ganjaran dari Tuhan. Baik Dullah dari Masyumi maupun Aziz dari PSII mengeluh setelah rapat NU di masjid. Tentang perhatian NU yang eksklusif terhadap agama dan hidup sesudah mati. Dullah mengatakan, “Ini tidak cocok. Anda harus mengatasi situasi sekarang," dan Aziz mengatakan, “Apa yang menarik perhatian mereka adalah kuburan dan ganjaran. Orang desa menyenangi ini. Mereka senang mendengarkan tentang bagaimana mereka akan memperoleh ganjaran dari amal saleh dan tentang kehidupan setelah alam kubur. Ini adalah agama kuno dan masih sangat populer.” Ia pun tidak suka dengannya. Ia menganggap NU kehilangan kontak dengan realitas. Pesan kaum kolot senantiasa sama: kalau Anda mau jadi orang baik, saleh dan berakhlak, Tuhan barangkali akan menganugerahi Anda kesehatan, kemakmuran serta kebahagiaan, juga sudah pasti pada Hari Kiamat, la akan mengangkat Anda ke sisi-Nya di surga. Digabung dengan kepercayaan bahwa penentuan segala sesuatu semata-mata menurut kehendak Tuhan, hal ini cenderung menghasilkan penyandaran kepada superioritas moral sebagai sarana untuk mencapai tujuan seseorang daripada berbuat langsung, terutama sekali dimana perbuatan akan membawa kepada situasi yang sulit. Seseorang yang memesan batu bata dari tukang batu bata dan sudah membayar, tetapi tidak memperoleh pesanan itu, akan menghibur diri dengan mengatakan bahwa itu adalah kehendak Tuhan serta nanti, ia yang menipuakan memperoleh ganjaran yang semula jadi hak tukang batu bata itu. Perumpamaan yang biasa digunakan (baik oleh kaum modernis maupun konservatif) sebagai lambang ditentukannya perbuatan manusia oleh kehendak Tuhan adalah seorang dalang dengan wayang kulitnya. Sebagaimana dalang memainkan wayangnya, demikianlah juga Tuhan memainkan manusia: dan sama seperti dalang yang memasukkan wayangnya ke kotak pada akhir pertunjukan, begitu pula manusia akan masuk kubur pada akhir kehidupannya. Sekalipun kaum modernis dan konservatif ama-sama memiliki kesan yang hidup tentang takdir Tuhan, cara mereka menafsirkannya berbeda dalam penekanannya.