Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 233
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 233 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Kemudian saya bertanya kepadanya (seorang modernis muda) tentang takdir dan dia mengatakan bahwa ia percaya segala sesuatu itu takdir serta bahwa nasib manusia seluruhnya berada di tangan Tuhan. “Jadi," kata saya, “mengapa berbuat sesuatu, kalau begitu? Mengapa orang Indonesia repot-repot dengan revolusi kalau segala sesuatu itu terserah kepada Tuhan?” Dengan berat ia mengatakan bahwa dalam Al Gur'an, kita diperintahkan untuk bekerja dan berjuang, untuk memperbaiki nasib kita sendiri. Ketika saya menyatakan keberatan, karena ini bertentangan dengan takdir, ia berkata bahwa ia menganggap kehendak untuk berbuat dan berjuang itu ditentukan oleh takdir juga. Akan tetapi, ia agak sedikit bingung dan bertanya kepada saya, bagaimana pendapat para pemikir Barat tentang itu: dan saya menegaskan kepadanya bahwa mereka tak jauh lebih maju daripadanya dalam soal itu. la mengatakan bahwa hal itu sebagian merupakan soal berat saja. Beberapa orang, terutama yang lebih lanjut usianya dan lebih kolot, menitikberatkan bagian takdir dari soal itu dan menganggap semua hal sebagai soal takdir. Sementara yang lain, terutama orang- orang yang lebih muda seperti dia, meski masih beriman kepada takdir, juga percaya bahwa usaha bisa membawa hasil yang berlainan. Misalnya saja, ia sering berdebat dengan neneknya tentang hal ini. Neneknya akan berkata, misalnya, tentang salah seorang sanak-keluarga yang sangat miskin, “Ah, itu memang sudah takdir, sudah nasibnya”. Sedangkan ia akan menjawab, “Ah, tidak. Mereka ini hanya malas saja, kurang keras bekerja,” katanya. Mereka memang tidak pernah sepakat mengenai soal-soal demikian. Oleh karena itu, perbedaan antara kaum kolot dan modern dalam soal kehendak bebas adalah, pertama, sampai dimana ajaran tentang determinasi digunakan dalam menjelaskan perilaku yang aktual dan kedua, mana yang lebih ditekankan, perintah Al Gur'an untuk berusaha ataukah kekuasaan Tuhan untuk menentukan perilaku seseorang sampai yang sekecil-kecilnya. Pada kaum kolot, tidak saja takdir lebih siap digunakan untuk memaafkan atau setidaknya menjelaskan kegagalan moral, biologis atau ekonomi, tetapi juga perimbangan antara perintah untuk berusaha dan keyakinan tentang takdir tampaknya nyaris seimbang. Hasilnya adalah sebuah pandangan dimana usaha manusia pada kenyataannya tidak mampu atau hanya mampu mengubah sedikit nasib seseorang. Namun, orang harus berusaha dengan sabar, apakah berhasil atau tidak, seperti seorang hamba yang sabar dan tenang mengikuti perintah Tuhan- nya yang suci, ia tidak mengeluh ataupun bertanya.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 233 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi