Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
tentang dunia ini. Seorang muslim yang baik, katanya, harus mengetahui baik kehidupan dunia maupun keagamaan, tidak salahsatu saja. Ia membacakan kepada saya beberapa kutipan yang telah dituliskannya dalam bahasa Arab di buku karangannya yang mengatakan bahwa mereka yang tertatih-tatih kian ke mari menggumamkan kalimat syahadat berulang-ulang adalah seperti orang mati yang bisa berjalan, seperti mayat berjalan yang menanti kematian dan mencoba meyakinkan dirinya tentang pertolongan Tuhan, tetapi tidak peduli terhadap siapapun juga. Pengalaman Religius versus Perilaku Keagamaan Pandangan pihak kolot terhadap pertentangan yang keempat dan kecenderungan untuk menekankan aspek pemenuhan agama secara langsung, cukup tampak dalam perhatian terhadap “berkah”, dengan “ketenangan batin” serta sikap yang relatif toleran terhadap upacara abangan dan mistik sebagaimana diuraikan di atas. Demikian juga, pihak modern dalam perbandingan itu tampak dalam penekanan terhadap kerja keras dan kemurnian agama serta perhatian terhadap kemajuan sosial yang sudah saya anggap sebagai sifat mereka. Namun, barangkali indikasi paling jelas dari perbedaan pilihan dua kelompok itu dalam dilema yang khas ini, harus dilihat dari sikap mereka yang berlawanan mengenai seni. Pandangan modern disarikan dengan baik dalam catatan saya tentang sebuah percakapan dengan seorang yang telah 20 tahun berkecimpung di Muhammadiyah: Di antaranya kami berbicara tentang wayang. Ia mengatakan bahwa setiap orang perlu melihat pertunjukan wayang sedikitnya satu kali, tetapi jangan lebih dari itu. Ia mengatakan, alasan mengapa orang harus melihatnya setidaknya sekali adalah bahwa wayang menggambarkan bagaimana dunia ini. Dalang memainkan wayang, sebagaimana Tuhan berbuat terhadap hamba-hamba-Nya. Kalau bukan karena Tuhan, orang takakan bisa berjalan atau berbicara. Tuhan adalah dalang dunia. Akan tetapi, sekali nonton saja sudah cukup untuk memahami ini: tidak ada gunanya untuk melihatnya lagi. Namun, Zaini (isteri informan itu) mengatakan bahwa ia tak pernah menonton wayangi dan ketika saya tanyakan sebabnya, ia mengatakan bahwa seorang santri yang baik tidak 'Suka menonton wayang karena itu hanyalah “kesenangan” serta tidak ada gunanya. Zaini mengatakan bahwa Islam mengajarkan kita untuk tidak membuang-buang waktu mengejar hal- hal yang tidak karuan. Suaminya