Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 241
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 241 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

'Saya bertanya kepada Dullah dan Haji Mukhtar, orang Muhammadiyah yang bekerja di kantor naib, tentang terbangan yang saya dengar akan diadakan di masjid pada 17 Agustus (hari kemerdekaan Indonesia): ini adalah pertama kalinya seni keagamaan dipertunjukkan di hari besar sekuler. Mukhtar tertawa ironis dan mengatakan, “Oh, kita menyaksikan saat-saat yang hangat di masjid dari pagi sampai malam akhir-akhir ini”. Dullah mengatakan bahwa hal itu hanya merupakan sebuah tontonan bagi orang-orang dusun yang bodoh dan disponsori NU. Untuk Muhammadiyah, hal-hal semacam ini mutlak terlarang. Masjid hanya untuk bersembahyang saja, tetapi orang-orang NU sangat ortodoks dan tidak mengerti. la mengatakan bahwa Muhammadiyah mencoba mencegahnya, tetapi tidak berhasil. Gambusan juga diadakan pada upacara khitanan, perkawinan dan “khataman” di pondok. Bisa jadi ini diadakan hanya untuk bergembira, tanpa ada acara khusus, di kota ada sekitar tiga atau empat orkes gambus yang anggota-anggotanya terdiri atas santri-santri muda yang biasa berkumpul sekali seminggu di rumah salah seorang anggota untuk berlatih dan melakukan improvisasi. Seringkali, tetapi tidak selalu, musik itu disertai dengan lagu-lagu Arab yang gampang dihafal (penyanyinya tidak mengetahui artinya, kecuali secara umum saja), tari-tarian Arab yang hangat,kebanyakan lucu, seringkali dengan menirukan perempuan. Seluruh efeknya dengan tabuhan gendang, tepuk tangan berirama, senggakan- senggakan dan lompatan maju mundur yang tidak keruan, menghasilkan kontras demikian tajam dengan formalitas orang Jawa yang biasa sehingga permainan ini dianggap agak liar serta tidak beradab oleh kebanyakan orang. “Seperti Afrika di Indonesia”, kata seorang muda modernis yang menyatakan ketidaksetujuannya terhadap permainan ini. Pencak, tarian bela diri itu, bukanlah sebuah seni yang seluruhnya bersifat santri atau tidak hanya dilakukan oleh kalangan santri saja, pun asal-usulnya tidak ada hubungannya dengan Islam. Namun, karena berbagai hal pencak telah diasosiasikan terutama dengan kultur pondok. Karena Sumatera dan berbagai pulau besar di luar Jawa pada umumnya cenderung memiliki tradisi Islam lebih kuat daripada Jawa dan memiliki tradisi Hindu-Buddha yang jauh lebih lemah, maka pencak yang selalu kuat di sana cenderung diasosiasikan dengan kultur orang Islam. Juga karakter pencak yang umumnya energetik lebih cocok dengan kultur pseudo (semu)-Arab dari pondok dibandingkan dengan kultur menahan diri dari mereka yang bukan santri. Jenis masyarakat kaum muda yang


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 241 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi