Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
kesemuanya pria—bahkan agak homoseksual—yang terbiasa susah, yang diwakili oleh pondok tampaknya menyukai bentuk-bentuk seni yang menekankan kekuatan fisik, kecerdasan dan daya tahan. (Seorang santri yang pernah tinggal di pondok pusat NU mengatakan bahwa kiai di sana menganjurkan pencak agar para murid tidak lagi ingin bermain olahraga seperti sepakbola yang mungkin akan menarik mereka keluar dari lingkungan pondok dan melakukan kontak dengan kehidupan sekuler). Hampir semua pemain pencak yang ulung di sekitar Mojokuto adalah santri kolot yang telah lama mengaji di pondok. Satu-satunya tempat dimana orang bisa menyaksikan pencak, seni yang hampir mati itu (pernah bangkit kembali sebentar di bawah pemerintahan Jepang yang mendorongnya, sejalan dengan program pro Islam serta kesiapsiagaan militer mereka, mungkin juga karena olahraga itu bagi mereka dirasakan agak menyerupai judo) adalah pada upacara “khataman” di pondok- pondok. Pencak adalah separuh tari dan separuh perkelahian dimana perbuatan agresif dibangkitkan serta dikembangkan, tetapi tidak dibiarkan sampai penuh. Dua orang pemainnya saling pukul dengan ganas, baik dengan tangan atau kaki, terkadang bahkan dengan menggunakan pisau, tetapi mereka menarik kembali pukulan-pukulan mereka pada saat yang tampaknya merupakan saat terakhir, sehingga pukulan itu tidak mendarat di lawan. Mereka saling melempar lawan ke lantai, dengan kerjasama sang korban menurut ritme penyerang, mereka melompat berputar-putar menurut jurus-jurus yang formal, berbalik saling menghantam atau menghindar. Sementara itu, gendang dipukul dan penonton bersorak-sorai. Hal itu merupakan pantomim perkelahian yang berada di ambang perkelahian sebenarnya. Seperti dalam adu banteng, keindahan serta rasa menyenangkan timbul dari tipisnya batas antara seni dan kehidupan yang sebenarnya. Dua orang berkelahi: seorang yang kecapaian atau terdesak, mengundurkan diri dan seorang penyerang lain melompat dari tengah penonton. Lima atau 10 menit kemudian, putusan diam-diam atas pertandingan itu tiba lagi: salah seorang meninggalkan gelanggang dan seorang penantang baru menghadapi sang pemenang. Hal seperti itu bisa berlangsung berjam- jam, diikuti oleh 10 atau selusin anak muda. Perkelahian pura-pura tampak selalu hampir pecah menjadi perkelahian yang sebenarnya serta membuka serangan dengan saling berteriak dan menyeringai, tetapi puncak perkelahian tidak pernah terjadi.