Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Namun, pencak bukan hanya merupakan bentuk seni saja. Ia sekaligus merupakan sistem pertahanan diri yang praktis dan bisa digunakan tanpa harus menahan diri secara estetika, serta merupakan suatu bentuk latihan rohani juga. Banyak dongeng diceritakan orang tentang prestasi pencak yang hebat dalam perkelahian yang sebenarnya dan seorang di dekat saya yang pernah memukul pencuri yang membawa golok besar pada suatu malam dianggap mampu berbuat demikian karena ia adalah seorang ahli pencak. Di pondok-pondok tempo dulu, ada orang-orang yang disiplin rohaniahnya sangat hebat dalam pencak sehingga mereka bisa merobohkan orang tanpa menyentuhnya samasekali dalam sebuah pertarungan pencak. Pertunjukan pencak sekarang ini pun sebagian masih dilihat sebagai pertarungan antara dua kehendak, sehingga seorang pemain pencak yang baik bisa membuat orang lain mundur dari gelanggang dengan kekuatan batin maupun kegesitan fisiknya—masing-masing sebenarnya merupakan aspek kebalikan dari pasangannya. Suaturangkaian adu kekuatan dan kekebalan kulit biasanya digabung- kan dengan pertunjukan pencak ini. Di sebuah “wisuda” pondok yang sayaikuti, anak-anak muda bergulung di tengah-tengah duri, mengangkat benda-benda berat, saling menghantam dengan batu bata dan memanjat galah yang licin. Konon kadang-kadang mereka menggores diri dengan ka- caatau berjalan di api, tetapi saya belum pernah melihatnya. Tujuannya, lagi-lagi adalah ganda: kesehatan fisik dan disiplin rohani, emacam olahraga mistik. Kesimpulannya, terbangan, gambusan dan pencak bergabung untuk mendefinisikan sebuah gaya seni dari subkultur yang sangat berbeda, yang dengannya kesederhanaan Islam tegas diubah untuk mereka yang menganggap agama harus lebih dari iman dan amal serta menganggap waktu lebih dari hanya sekadar uang. Adat dan Skolastikisme versus Pragmatisme dan Rasionalisme Akhirnya, ada pertentangan antara sikap kaum kolot yang bersandar kepada adat serta ajaran skolastik yang terperinci, dengan kecenderungan kaum modern untuk mengambil saja perintah-perintah umum dalam Al Gur'an dan membenarkannya secara pragmatis. Kuatnya kepemimpinan kiai di NU memiliki arti bahwa tradisi skolastik sangat berakar di sana.