Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Jawa. Akan tetapi, kaum modern yang usaha-usahanya didukung oleh beberapa perubahan yang berarti dalam bentuk-bentuk organisasi sosial, hanya kadang-kadang saja berhasil mengatur tingkahlaku menurut ukuran-ukuran ini—dulu, untuk waktu yang lama, kebanyakan orang Kristen merupakan penyembah berhala. Namun, adalah salah untuk mengambil kesimpulan dari sini—dan ini seringkali dilakukan—bahwa Islam sebenarnya tidak penting artinya dalam kehidupan orang Jawa dan bahwa perbedaan antara abangan serta santri hanyalah perbedaan istilah dan pernyataan saja. Pasalnya, bahkan di kalangan santri yang paling kolot sekalipun, telah berlangsung sebuah pergeseran yang menentukan ketika seorang manusia yang didorong oleh kelas, pekerjaan, geografi, riwayat keluarga, atau, siapa tahu, oleh kebutuhan psikologis yang lebih dalam terhadap suatu jenis agama yang berbeda dari yang diberikan oleh kebudayaannya, berubah menjadi seorang santri. Ia memulai sebuah proses pergantian agama yang sejati, yang kalau pun tidak bisa diselesaikan olehnya, mungkin akan diselesaikan dengan baik oleh anak-anaknya. Bahkan seorang santri yang paling lunak kadar keagamaannya, telah mengambil beberapa prinsip, betapapun kabur dan salah dimengertinya prinsip- prinsip itu. Ia, karena waktu dan meningkatnya dukungan sosial, bisa berakhir dengan sebuah pandangan dunia yang samasekali berbeda: ide tentang Allah yang jauh dan Maha Kuasa yang memperhatikan nilai moral seorang yang beriman. Ide bahwa tingkahlaku sekuler, bagaimanapun juga, mesti dibenarkan oleh doktrin agama. Ide bahwa di antara jalan-jalan yang dianjurkan untuk memahami agama, hanya satu yang benar serta yang lainnya semua salah. Seseorang juga tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa skala kolot-ke-modern merupakan ukuran dari kadar masuknya prinsip- prinsip ini ke dalam diri orang Jawa yang pada dasarnya bermental abangan. Melainkan, ia mencerminkan dua jalan dimana prinsip- prinsip ini untuk sebagian dapat diwujudkan dalam konteks sosial yang sebagian besar masih non-muslim. Kaum modernis menekankan jalan disasosiasi atau perceraian radikal dari konteks itu dan pemurnian doktrin dalam sebuah kelompok kecil pemimpin-pemimpin agama. Kaum konservatif mencoba mengambil jalan tengah yang selaras dengan tradisi yang berlaku dan dengan demikian, membuat transisinya lebih mudah serta meredakan ketegangan antara dirinya dengan tetangga- tetangganya yang tidak sepakat dengannya. Namun, ada baiknya diingat