Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Apa yang dimaksud dengan ini adalah bahwa seorang yang tua, tinggal di desa, tidak terpelajar dan sangat saleh, mungkin sekali sangat kolot dan kemungkinan besar akan menjadi anggota NU, seorang yang berusia muda, tinggal di kota dan terpelajar (ia bisa saja mendalami keagamaannya atau bisa juga tidak), sangat mungkin menjadi seorang Masyumi: tetapi kesetiaan orang yang ciri-cirinya berbaur, seperti orang kota yang tua dan tidak terpelajar, akan tidak begitu gampang diduga. Kalau kita ingat bahwa ada juga beberapa tekanan seperti ikatan kekeluargaan, pertimbangan letak geografis dan keinginan berkuasa yang mungkin membuat seorang individu menentang kelompoknya, kita melihat bahwa persoalannya tidak memiliki batas yang begitu jelas seperti kenyataan sederhana bahwa seorang petani santri yang terbelakang tahu bahwa NU itu “konservatif” serta Masyumi itu “progresif" dan ia menganggap dirinya pengikut salahsatu partai itu. Kepemimpinan Politik-Keagamaan Berbagai tekanan dan kontra-tekanan menemukan intensitasnya yang terbesar, sebagaimana dapat diduga, dalam kelompok elite masing- masing partai. Di kalangan awam, konservatisme dan modernisme tampaknya hanya menjadi preferensi yang kabur pada seorang individu serta dia dianggap condong (bersimpati) kepada salahsatu partai, semacam teman perjalanan yang tidak tahu secara jelas apa masalahnya, tetapi merasa bahwa salahsatu kelompok “cocog” dengan perasaannya. Namun, di kalangan pimpinan prasangka-prasangka lebih terartikulasikan dan karenanya masing-masing partai mempunyai masalah ganda, pertama, membuat perimbangan di kalangan elite sehingga bisa dicapai konsensus tentang seberapa “konservatif” partai konservatif seharusnya serta seberapa “modernis” pula partai modernis: kedua, menarik dan mempertahankan massa menurut ukuran-ukuran ini. Di Mojokuto, konflik kepemimpinan muncul dalam ukuran ber- beda untuk masing-masing partai. Pada NU, konflik itu berlangsung antara pemimpin-pemimpin yang lebih muda, lebih terpelajar dan telah terpengaruh kota, dengan kiai-kiai pedesaan yang lebih tua, yang agaknya lebih menghendaki NU tetap dalam garis perjuangan konservatif. Kaum muda ini modernismenya seringkali hampir sekuat pemimpin-pemimpin Masyumi. Namun, mereka diperlukan oleh partai