Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
itu agar bisa berjalan lancar dalam arena politik. Dewan pimpinan NU di Mojokuto terdiri atas dua kelompok. Ada tiga atau empat orang kolot yang berusia 60-an tahun yang tugas utamanya adalah berkomunikasi dengan rakyat jelata dan para kiai di desa yang menjadi pemimpin spiritual mereka serta untuk meyakinkan kedua kelompok itu bahwa partai tidak jatuh ke tangan-tangan yang berdosa. Kemudian ada lagi tiga atau empat orang muda yang pekerjaannya membuat bagan garis partai dalam perjuangan politik lokal, memberinya semacam kemiripan dengan organisasi yang efektif dan menyampaikan perintah-perintah dari pimpinan pusat. Jadi, sementara pemimpin-pemimpin partai setempat dapat mengatakan bahwa NU adalah partai yang benar-benar sangat konservatif dan yang motto utamanya adalah “Awas, hati-hati", serta bisa menuduh Muhammadiyah sebagai begitu gegabah dalam soal-soal keagamaan, tetapi sekretaris organisasi, seorang yang masih muda, dapat menyampaikan pidato kepada saya yang tidak akan terdengar ganjil bahkan jika diucapkan di dalam Dewan Pimpinan Muhammadiyah. a mulai berbicara tentang pendidikan Islam. Ia mengatakan bahwa menurut pendapatnya, alasan utama terjadinya krisis moral yang kini melanda Indonesia adalah sangat rendah dan primitifnya pendidikan agama di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. la mengatakan bahwa kiai hanya membaca Al Gur'an dan murid-muridnya sekadar menghapal kata-kata kitab suci itu. Ini memang kedengarannya baik, katanya, tetapi tak seorang pun dari mereka mengetahui apa yang tercantum dalam Al Gur'an dan apa sebenarnya Islam itu: mereka bukan orang Islam sejati. Metode pendidikan yang kuno itu juga menimbul- kan ketidakpedulian terhadap agama dan kemudian, memunculkan perasaan anti-agama di kalangan murid-murid ketika mereka menyadari bahwa selama ini mereka membuang-buang waktu saja. la mengatakan bahwa keadaannya sudah lebih baik sekarang, tetapi masih cukup menyedihkan. Karena NU sebagaimana saya lukiskan berikut, begitu kolotnya, maka pemimpin-pemimpin yang lebih muda walaupun tidak selantang para kiai, senantiasa terlibat dalam sebuah usaha untuk membawa partai yang enggan, ke jalan yang semakin modern. Saya menghadiri sebuah rapat NU semalam. Ada sekitar 30 orang yang hadir, kebanyakan orang-orang tua, banyak di antaranya sangat