Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 14 Sistem Pendidikan Santri Agama abangan yang sangat ritualistik dan demikian terikat kepada adat tidak memerlukan latihan formal untuk mendukungnya. Ia bisa dipelajari sebagaimana semua yang lain dalam kehidupan seorang petani, secara sambil lalu atau sengaja, dengan mengikuti contoh-contoh yang diberikan oleh orang lain. Hal itu berlangsung terus lewat pengulangan kembali berbagai drama singkatnya yang terjalin sebagaimana adanya ke dalam seluruhiramakehidupan sosial dan budaya. Mistisisme priyayimemerlukan pendidikan, tetapi ketiadaan minat masyarakat terhadap ortodoksi dan tidak adanya permusuhan terhadapnya menyebabkan organisasi formal yang meluas untuk pendidikan semacam itu tidak diperlukan. Pada kenyataannya, pendidikan keagamaan priyayi umumnya hampir bersifat otodidak. Sebaliknya, sebuah agama yang doktrinal sekaligus penting tentu saja harus bersandar kepada sistem sekolah yang dikembangkan dengan baik untuk penyebaran maupun pemeliharaannya dan orang muslim “sejati" berada dalam posisi yang khusus. Kompleksitas doktrinal dari kepercayaan mereka, kurang terintegrasinya kepercayaan itu dengan beberapa bentuk ikatan sosial pokok dan sikap dasar masyarakat tani serta permusuhan kalangan bukan santri terhadapnya, mengharuskan adanya usaha-usaha khusus yang terus-menerus untuk mengindoktrinasi mereka yangingin menjadi pengikutnya. Kemunduran serta buta huruf agama yang tidak pernah memiliki arti bagi kalangan abangan merupakan masalah pokok bagi umat dan sistem sekolah Islam memang dirancang khusus untuk mengatasi persoalan itu. Pondok: Pola Tradisional Di pusat sistem sekolah tradisional terdapat pondok, seringkali juga disebut pesantren. Sebuah pondok terdiri atas seorang guru-pemimpin,