Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
benar-benar patut dicatat. Seorang santri bukanlah orang suci yang magang, ia hanya seorang anak muda yang menjadi dewasa di dalam lingkungan keagamaan, menjadi dewasa dengan gemuruh pengajian Islam yang bergema di telinganya. Akan tetapi, pengajian itu sudah mulai bergema jauh sebelum ia masuk ke pondok. Tahap pendidikan agama yang lazim pada seorang anak santri desa dimulai pada usia sekitar enam tahun, bersama dongeng ibu yang menceritakan kisah-kisah Islam (atau tradisi Jawa yang disesuaikan dengan Islam) dan memberitahukannya bahwa Tuhan menciptakan dunia serta akan menghukumnya jika ia bertingkahlaku buruk dan mungkin juga mengajarinya beberapa do'a pendek. Pada usia sekitar delapan tahun atau kadang-kadang sebelumnya, anak itu mulai ikut ayahnya ke langgar, dimana lambatlaun ia belajar meniru gerak- gerik ayahnya dan menghafalkan serangkaian bacaan sembahyang. Namun, ia belum diharapkan mengerjakannya dengan sungguh- sungguh. Sembahyang Islam pada umumnya cukup informal sehingga seorang anak yang berlari-lari di sekitar tanpa begitu mempedulikan apa yang sedang dilakukan orang-orang dewasa, tidak dianggap begitu mengganggu. Bahkan, sampai sekarang pun hampir di setiap masjid ada beberapa anak kecil yang duduk atau bermain-main secara diam-diam, sementara orang-orang dewasa bersembahyang tanpa mengacuhkan mereka. Seringkali beberapa anak berkumpul di rumah seseorang atau beberapa orang secara bergiliran untuk diajar mengaji ayat-ayat yang sederhana. Bila anak itu mencapai usia 10 atau 12 tahun dan tampaknya sudah bisa berdiri sendiri, ia diperbolehkan pergi ke pondok, pulang ke ru- mah sebentar-sebentar (dan untuk dikhitan) serta akhirnya tinggal di rumahnya sendiri sesudah orangtuanya mengatur pernikahannya. Se- lanjutnya, ia akan melakukan sembahyang setiap hari, pergi ke masjid tiap hari Jum'at, menyumbangkan uang untuk pondok kalau bisa serta mengunjungi kiai-nya beberapa kali untuk minta nasihat, konsultasi spiritual dan bahkan untuk sekadar pengobatan kecil. Ia (Usman, anak kiai-nya Nazir yang setengah modern) mengatakan bahwa orang sering datang kepada kiai yang lebih tua untuk meminta nasihat dan ia menyebut seorang kiai di Bragang yang memberi nasihat kepada banyak orang. Ia mengatakan bahwa di samping aspek keagamaan yang bersifat langsung dari pondok, ada dua hal lain yang selalu diasosiasikan dengan pondok di masa lalu: pencak (tari beladiri)