Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
konservatif yang agak lunak sekalipun: pondok yang telah memasukkan perkiraan-perkiraan kasar dan siap pakai untuk sekolah model Barat di dalamnya, dimana santri yang lebih tua mengajar berhitung, membaca huruf latin dan sedikit pengetahuan umum kepada santri yang lebih muda, sekolah yang dipimpin oleh kaum konservatif, yang sekalipun sudah mengarah ke pola Barat, masih memperhatikan pelajaran agama dari jenis yang cukup tradisional untuk tiga perempat jam pelajaran: dan sekolah-sekolah modernis dimana agama, sekalipun masih penting, mengambil kurang dari separuh kurikulum dan diajarkan dengan cara yang sama sebagaimana mata pelajaran lainnya. Pola Pondok di Mojokuto Sebelum Perang Dunia Kedua, peta bumi Mojokuto penuh dengan titik-titik yang menunjukkan pondok, baik besar maupun kecil. Para informan memberikan statistik yang berbeda, tetapi agaknya memang pasti kalau sekitar tahun 1930, setidaknya ada enam pondok besar dan banyak pondok kecil di wilayah sekitar Mojokuto: dan tentu, salahsatu yang paling terkenal di seluruh Jawa adalah yang terletak 32 kilometer ke utara. (Hampir semua pemimpin NU dan beberapa pemimpin Masyumi sudah tinggal beberapa lama di pondok ini: pada 1930-an, selalu ada kira-kira 25-30 orang dari Mojokuto yang mondok di sana). Sekarang hanya ada dua pondok besar dan 11 pondok yang lebih kecil: pondok besar memiliki sekitar 200300 murid, sementara yang lebih kecil sekitar 60 murid. Dua pondok besar itu, yang satu sejauh hampir satu kilometer sebelah timur kota dan yang lain, yang lebih besar, sejauh sekitar enam kilometer ke barat, memiliki tata-letak yang hampir sama dan menjadi ciri “kampus” pondok tradisional: sebuah masjid besar di tengah, dikelilingi oleh enam atau tujuh asrama serta rumah kiai agak ke samping. Asrama itu merupakan sumbangan dari berbagai kalangan umat Islam di seantero Pulau Jawa untuk digunakan oleh anak-anak muda yang berasal dari wilayah yang bersangkutan (walaupun anak dari daerah lain menggunakannya juga kalau masih ada kamar dan ada beberapa asrama “umum”). Di pondok yang lebih besar dari kedua pondok itu, sebagian besar asramanya merupakan sumbangan masyarakat santri Jawa Tengah (Banyumas, Cilacap, Solo, Kedu) sehingga konsekuensinya, kebanyakan muridnya berasal dari wilayah-wilayah itu dan bukan dari