Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 289
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 289 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

guru) merupakan lulusan sekolah madrasah, maka semua muridnya adalah anak-anak desa (tak ada anak perempuan), kebanyakan juga sudah belajar di pondok untuk beberapa lama. Sekolah mualimin berlangsung selama tiga tahun, separuh agama, separuh pengetahuan umum dan setelah tamat, para lulusannya bisa kembali serta mengajar di madrasah. Harapannya jelas, yaitu untuk melatih guru-guru yang lebih modern yang kemudian bisa memperbarui sekolah-sekolah desa “dari dalam” ke arah metode yang lebih “progresif". Ini tentu merupakan metode yang lebih efektif daripada menekan secara langsung para pengawas sekolah yang kolot. Sekolah mualimin yang terletak di kauman Mojokuto itu mempunyai enam kali 45 menit pelajaran dalam sehari, selama enam hari dalam satu minggu (hari Jum'at libur). Salah seorang dari kedua gurunya (“lulusan” dari lima tahun tinggal di pondok markas besar NU di sebelah utara Mojokuto) mengajar semua mata pelajaran agama dan yang lain (lulusan sekolah NU yang cukup modern di kota Semarang) mengajar semua mata pelajaran umum. Pelajaran agama meliputi semua pelajaran tetap khas pondok—figh, tauhid dan sebagainya, tetapi tidak ada tasawuf, karena dianggap “terlalu tinggi”—dengan sedikit penekanan baru pada akhlak atau etika, seringkali lebih memiliki kualitas Jawa daripada Islam. (Informan adalah juga guru yang bersangkutan). Etika diambil dari kehidupan pada umumnya, dari hadis dan dari buku-buku filsafat Islam, seperti misalnya kitab tulisan Ali Fikri, seorang penulis Arab klasik. Pengajaran etika berurusan dengan “kesopanan” (yang dalam bahasa Jawa memiliki a! luas daripada dalam bahasa Inggris—lebih berarti “perilaku yang baik”) kepada Tuhan dan manusia. Misalnya, marah atau mengatakan sesuatu dengan cara “keras" kepada seorang ng tahu rahasia seseorang, ia harus menyimpannya untuk diri sendiri. Sebagai contoh, kalau A tahu bahwa B punya utang banyak, ia tidak boleh menceritakannya kepada orang lain. Saya bertanya, "Maksud Anda, kalau A tahu bahwa B akan mencuri, ia tidak boleh berkata apa-apa?” Katanya, tidak demikian: segala sesuatu yang memalukan serta ingin disembunyikan orang, seperti utang dan sebagainya. Kalau seorang pria bertengkar dengan isterinya, maka orang yang mengetahuinya tak boleh menceritakannya kepada orang lain. Ia mengatakan bahwa ada satu hadis tentang ini. Salah seorang sahabat Nabi mengisahkan kepada Nabi bahwa ia hampir saja berzina dengan seorang gadis. Nabi pun berkata kepadanya: “Apa kamu


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 289 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi