Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
sebuah buku yang tebalnya 105 halaman), satu bagian tentang singa laut, sesuatu yang disebut “anjing laut” dan sebagainya. Isinya merupa- kan deskripsi langsung dari binatang-binatang aneh dan ikan beserta klasifikasinya—tidak ada apa-apa selain itu dan tidak ada gambar. (Buku pelajaran yang mereka gunakan itu adalah buku stensilan dan hanya ada sedikit sekali gambar). Informasi yang tidak fungsional ini tentu kurang dipahami para murid. Beberapa yang mempunyai buku pelajaran tidak mengerjakan apa-apa dan sekadar duduk-duduk saja, terkadang bercakap-cakap pelan dengan murid lainnya: yang lain hanya menyalin, menyalin dan menyalin. Sesudah pelajaran ilmu hewan, guru memba- cakan serangkaian pertanyaan dari sebuah buku untuk mereka jawab dan setelah itu pelajaran selesai. Sekolah Agama Modern di Mojokuto Interval berikutnya pada skala dari pondok ke sekolah (sekolah sekuler) adalah sekolah lama Sarekat Islam yang kini bekerja di bawah nama Balai Pendidikan dan Pengajaran Islam, tetapi umumnya dikenal dengan BPPI dan biasa disebut sebagai “Sekolah Arab”. Ini adalah sebuah sekolah dasar enam tahun dengan 188 murid (uang sekolah Rp 2,50 per bulan) dan lima orang guru yang dipimpin oleh saudara sepupu H. Nazir, pemimpin kawakan SI dan terletak di kauman Mojokuto, persis di belakang masjid. Hanya dua orang guru yang merupakan lulusan sekolah guru dan gajinya Rp 60 sebulan. Ini bukan gaji yang cukup untuk hidup, tetapi semua guru itu memiliki sumber pendapatan di luar. Ruslam (saudara seorang guru BPPI) mengatakan bahwa kepala sekolah BPPI hanya memperoleh Rp 80 sebulan, sedangkan guru- gurunya Rp 60 dan bahwa mereka itu mengajar karena senang, bukan untuk uangi mereka harus memiliki “semangat yang besar”. a mengakui bahwa mereka tidak bisa hidup dari itu: katanya, kepala sekolah memiliki sedikit sawah dan para guru kebanyakan adalah anak muda yang masih tinggal bersama orangtua. Muhammadiyah pun dulunya menggunakan carademikian, tetapi sekarang mereka lebih efisien dalam mengumpulkan uang dan dapat membayar guru-gurunya lebih tinggi walaupun masih jauh di bawah gaji guru sekolah negeri.... Pola pengajarannya serupa dengan sekolah dasar NU, hanya persentase pelajarannya bukan 8096 agama dan 2096 umum, melainkan 6096 umum dan 4096 agama. Pengajarannya lebih baik, karena dari 16