Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Rasid mengatakan bahwa pada tahun ini, para guru telah mengadakan dua pembaruan, keduanya sangat ditentang oleh kaum PSII tua. Pertama, sekarang, agama diajarkan dalam bahasa Indonesia dan bukan dalam bahasa Arab seperti yang biasa dilakukan karena anak-anak tidak paham bahasa Arab. Tentu mereka tetap membaca Al Gur'an dalam bahasa Arab, tetapi bahasa pengantar seluruh mata pelajaran sekarang adalah bahasa Indonesia, baik umum maupun agama, bukan bahasa Indonesia pada pelajaran umum dan bahasa Arab pada pelajaran agama seperti sebelumnya. Kedua, sekarang BPPI diliburkan pada hari Minggu, bukan hari Junvat. Ini sangat ditentang, terutama oleh orang-orang Arab, mereka berkata akan menarik anak-anak mereka dari BPPI jil perubahan itu dijalankan. Akan tetapi, perubahan itu tetap berjalan dan mereka tak jadi menarik anak mereka karena mereka tahu tidak ada sekolah lain yang mau menampung mereka. (Sifat kasar anak-anak Arab sudah terkenal sebagai problem perilaku di sekolah Jawa yang atmosfirnya begitu santun. Kecuali BPPI, kebanyakan sekolah tidak mau menerima mereka karena “mereka berkelakuan seperti binatang”). Alasannya, jika libur hari Minggu, anak-anak akan ke gereja dan menjadi anak Kristen. Menurut Rasid, ini terlalu bodoh, tetapi ia mengatakan, memang berat mengubah sesuatu dalam PSII di Mojokuto, karena banyak orang yang terlalu konservatif. Karena BPPI sudah memenuhi kebutuhan akan sekolah dasar untuk santri di kota Guga kebutuhan unsur modernis di desa: dari 188 murid, sekitar 130 berasal dari pedesaan), maka usaha Muhammadiyah diarahkan terutama pada sekolah lanjutan, meskipun ia juga mempunyai sekolah dasar yang pada kenyataannya mengalami kesulitan karena bersaing dengan BPPI. (Ini adalah salinan dari sebuah laporan pada rapat pengurus sekolah Muhammadiyah yang ditulis oleh anggota lain proyek itu). Pertumbuhan sekolah dasar tampak lesu. Kelas satu ada 10 murid, kelas dua 16, kelas tiga 10, kelas empat 20, kelas lima dan enam tidak ada (keadaan waktu sekolah dibuka kembali setelah revolusi—yakni empat tahun yang lalu). Sekarang kelas satu tidak ada gurunya, padahal di kelas ada beberapa orang murid yang memerlukan seorang guru yang bekerja penuh. Apa yang harus dikerjakan? Secara umum, sekolah itu semakin lama semakin merosot, seluruh muridnya, kecuali 20 orang, berasal dari panti asuhan (Muhammadiyah), mereka ini adalah penghuni yang relatif tetap dan kini sedang tumbuh menjadi dewasa. Namun, apa yang akan dilakukan tahun ini untuk kelas satu? Mereka tidak mau memaksa anak-anak pindah ke sekolah lain. Pertama-tama, ketetapan panti asuhan bersama dengan