Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
menyumbang Rp 600 sebulan untuk anggaran belanja. Enam dari guru-gurunya memiliki ijazah sekolah menengah atas atau lebih tinggi lagi dan yang lainnya berasal dari sekolah agama tingkat lanjut atau sekolah menengah pertama. Jumlah murid yang lulus ujian akhir SMP yang diadakan negara senantiasa meningkat semenjak sekolah itu didirikan setelah perang: bahkan murid-muridnya pada 1954 sanggup memberi kejutan kepada penduduk Mojokuto dengan menjadi yang terbaik dalam pengujian tiga sekolah menengah pertama swasta di kota itu, meskipun dua sekolah yang lain selama ini dianggap lebih unggul secara akademis. (Sebelum perang, Muhammadiyah hanya mempunyai satu sekolah dasar). Tak seperti sistem NU, sistem sekolah Muhammadiyah sepenuhnya berpolakan sistem sekolah negeri. Usaha Muhammadiyah bukanlah untuk membuat sendiri sistem sekolah Islam yang konsisten dan sempurna, tetapi mengorganisir sistem sekolah swasta yang sejajar dengan sistem nasional serta dapat mengambil keuntungan dari situ. Salahsatu contoh adalah didirikannya sekolah guru Muhammadiyah yang baru, sewaktu saya masih di Mojokuto. Sekolah guru yang lebih rendah (yang melatih guru untuk sekolah dasar) dalam sistem nasional sama dengan sekolah menengah pertama. Bedanya, sekolah guru itu lamanya empat tahun, sedangkan sekolah menengah pertama tiga tahun. Waktu tambahan itu digunakan untuk mata pelajaran pendidikan. Karena terbatasnya tempat disekolah guru negeri, Muhammadiyah membuka sendiri sekolah guru, hanya terdiri atas kelas empat saja—yakni sebagian besar mata pelajaran pendidikan—untuk menampung tamatan sekolah menengah pertama. Jadi, seorang murid mendapatkan tiga tahun pelajaran umum di sekolah menengah pertama, baik di sekolah negeri ataupun Muhammadiyah dan setahun kursus kejuruan di sekolah guru Muhammadiyah. Pengurus sekolah mengajak seorang priyayi yang barangkali merupakan guru paling kompeten dan berdedikasi dalam sistem sekolah negeri untuk mengepalai sekolah yang baru itu—di samping melakukan pekerjaan rutinnya—dimana semua pelajaran dilangsungkan pada sore hari. Karena muridnya hanya 12 orang dan banyaknya persoalan, seperti apakah sekolah itu bisa dilanjutkan pada tahun berikutnya, keberhasilan dari percobaan ini masih penuh tanda tanya. Namun, berdirinya sekolah itu saja adalah tanda adanya imajinasi dan kegigihan Muhammadiyah dalam mencapai tujuannya mendidik kaum santri menurut cara yang lebih “Barat".