Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Contoh lain dari vitalitas program pendidikan Muhammadiyah yang lebih besar adalah usaha—mulanya diusulkan oleh cabang Mojokuto— semua cabang Muhammadiyah di keresidenan itu (enam cabang, masing- masing satu dari keenam kota yang terbesar) untuk membentuk semacam sistem sekolah sedaerah dengan: (1) koordinasi kurikulum dengan persamaan mata pelajaran dan jumlah jam pada masing-masing sekolah, mempermudah pertukaran guru, standardisasi bahan pelajaran dan sebagainya: (2) menjaga keseimbangan standar pada setiap sekolah sehingga seorang murid dapat dengan mudah pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya, tanpa kelasnya harus dinaikkan atau diturunkan: (3) penunjukan seorang “penilik sekolah" untuk meneliti sekolah- sekolah itu dan mengusulkan bagaimana mutu sekolah bisa ditingkatkan dan bagaimana memelihara standar, (4) secara teratur mengadakan pertemuan pengurus sekolah setiap cabang untuk mengkoordinasikan kebijakan: (5) mengadakan “Pekan Pelajar Muhammadiyah" sekali dalam setahun, dimana murid dari seluruh sekolah Muhammadiyah berkumpul dan berolahraga. Memang betul, rencana yang bagus ini hampir tak dilaksanakan waktu saya meninggalkan Mojokuto dan banyak hambatan yang merintangi perwujudan sepenuhnya dari rencana itu. Namun demikian, bahkan adanya konsep itu pun merupakan tanda bahwa pemikiran Muhammadiyah tentang pendidikan berbeda dari organisasi santri lainnya. Cara berpikir yang agak berbeda dalam hal pendidikan ini yang hampir tak ada bedanya dengan mereka yang mengarahkan sistem sekolah negeri sekuler—kecuali bahwa ia memelihara hubungan dengan ideologi Islam—dilihat dari sudutpandang fungsional, mengandung beberapa kelemahan di antara kebaikan-kebaikannya jika dilihat dalam hubungannya dengan konteks santri pada umumnya. Pertama, meskipun tingkat teknis dari pendidikannya tak diragukan lagi lebih tinggi di sekolah-sekolah Muhammadiyah daripada di sekolah-sekolah NU dan pondok, tetapi hal itu dicapai dengan jalan mengizinkan sekulerisasi yang lebih besar dalam kurikulumnya yang pada gilirannya menjadi hambatan untuk menjangkau unsur-unsur konservatif dalam umat seefektif mungkin. Bahkan anggota Muhammadiyah yang lebih religius pun merasa agak cemas dengan pendidikan agama tidak lengkap yang diberikan di sekolah mereka dan cenderung apologetik serta defensif dalam hal itu. Sekolah Muhammadiyah kurang lebih merupakan titik akhir (terminus