Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
guru agama sendiri dan dapat menarik murid-murid ke sini, barangkali beberapa di antaranya dengan beasiswa dari pemerintah yang akan sangat membantu secara keuangan.... Oleh karena itu, Rakhmad menyarankan mereka agar mengambil langkah demikian. Mereka harus tetap menjaga kelangsungan sekolah menengah atas itu (dan juga sekolah guru sekuler) serta menambah guru agama baru atau minta tambahan mengajar pada guru yang ada. Kemudian, menawarkan kepada murid-murid, siapa yang ingin masuk sekolah menengah atas dan siapa yang ingin masuk sekolah guruagama. Murid sekolah menengah atas akan mendapat ijazah sekolah menengah atas dan murid sekolah guru agama akan mendapat ijazah sekolah guru agama, meskipun semua akan mendapatkan pendidikan dan pelajaran yang sama, hanya murid sekolah menengah atas dapat meniadakan pelajaran agama dan keluar satu tahun lebih dulu. Semua duduk di ruang yang sama dan mendengarkan guru yang sama, hanya sebagian adalah murid sekolah menengah atas dan sebagian lagi murid sekolah guru agama. Hasilnya, jumlah murid bisa bertambah karena mereka dapat menarik dua kelompok murid. (Sekolah menengah atas tak pernah penuh).... Manipulasi nama yang luarbiasa ini benar-benar menggembirakan semua dan H. Ustaz berbicara tentang menulis artikel untuk suratkabar mengenai didirikannya sekolah baru di Mojokuto oleh Muhammadiyah, membacakannya dengan sukacita (“Dalam sebuah pertemuan tanggal 1 Juni di panti asuhan...”) dan mereka mendiskusikan sebentar tentang etika dari hal ini, kemudian memutuskan bahwa mungkin mereka harus menyebutnya sebagai “divisi baru”. Namun, H. Ustaz berjalan terus dan ketika saya bertemu Ali (ketua pengurus sekolah) pada pagi berikutnya, ia berkata: “Tuan lihat, Muhammadiyah masih terus maju sedikit demi sedikit, kami akan mendirikan sekolah baru”: dan kata Ustaz, sebentar saja Mojokuto akan mempunyai sekolah yang banyak seperti Blitar.... Menumbuhkan dua sekolah, dimana yang satunya tumbuh sebelumnya dengan memanipulasi keruwetan dan spesialisasi yang berlebihan pada sistem pendidikan Indonesia, menurut pandangan saya, tampak biasa sekarang dalam usaha pendidikan di Indonesia secara umum, bukan hanya dalam Muhammadiyah. Di semua pertemuan orang-orang Muhammadiyah yang saya datangi, tidak pernah ada diskusi mengenai problem pendidikan walau satu kali pun. Hal ini membuat jengkel Panji (Seorang priyayi yang menjadi kepala sekolah guru): katanya, kelompok- kelompok sekolah sekuler pun tak pernah mendiskusikan problem pendidikan. Mereka selalu membicarakan keuangan, manipulasi—seperti malam lalu, atau bagaimana mendapat uang lebih banyak dari suatu kantor pemerintah.... Jadi, meskipun Muhammadiyah tak diragukan lagi merupakan golongan santri yang paling berhasil dalam memberikan pendidikan