Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Organisasi Lokal Departemen Agama Dalam ibukota kecamatan seperti Mojokuto, dimana hanya ada satu Kantor Urusan Agama, (yang umum disebut KUA atau Kenaiban, dari kata naib, pejabat kepala kantor itu), fungsi apa pun dari ketiga jawatan lainnya yang harus dilaksanakan pada tahap itu disalurkan melalui KUA atau lebih lazim dikerjakan langsung oleh kantor kabupaten atau provinsi. Jadi, guru agama di sekolah-sekolah negeri diawasi oleh Kantor Jawatan Pendidikan Agama Kabupaten di Bragang, ibukota kabupaten dan oleh satu-satunya ahli agama yang terpelajar di wilayah itu—seorang pemimpin Masyumi—yang mempersiapkan khotbah Jum'at untuk disebarkan oleh pemerintah secara resmi langsung dari Kantor Penerangan Agama di Surabaya. Tentang fatwa hukum, itu akan diberikan oleh naib setempat bila ia mampu, dimana ia mungkin tidak mampu kalau perkaranya sulit sekali dan kalau ia tidak mampu, iaakan menyarankan para pemohon untuk pergi ke Pengadilan Agama Islam di Bragang. Kepala KUA setempat adalah naib. Dalam tatanan baru mestinya ada seorang “Kapala Kantor Urusan Agama” di atas naib sehingga orang Kristen tak bisa mengatakan bahwa kantor itu seluruhnya untuk urusan orang Islam. Akan tetapi, di Mojokuto (dan saya bayangkan di mana pun juga di tingkat kecamatan), hal ini belum dilembagakan dan naib mengepalai kantor itu sebagaimana biasanya menurut tradisi. Tugas utamanya meliputi pengarahan umum dari kantor itu serta pengaturan perkawinan dan perceraian. Ia dibantu oleh staf yang terdiri atas khotib, tugas khususnya memberikan keterangan mengenai hukum Islam kepada orang-orang Islam: imam yang memimpin ibadah di masjid Mojokuto dan pada umumnya berurusan dengan upacara- upacara agama: mukadin, membantu imam dan memanggil umat bersembahyang dari menara masjid: merbot, membersihkan masjid, kantor dan sebagainya: serta ketib, juru tulis kantor. Sebenarnya bagan organisasi itu lebih bersifat teoretis daripada menggambarkan keadaan yang sebenarnya walaupun semua tugas terangkum di dalamnya. Di Mojokuto, semua pegawai (kecuali merbot, yang semata-mata hanya seorang pesuruh) melakukan semua pekerjaan kantor tanpa pembagian kerja yang jelas di antara mereka, kecuali untuk fungsi eksekutif umum dari naib.