Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Sebenarnya, pembatasan jumlah haji tidak begitu dirasakan sebagai kesulitan oleh umat karena ibadah itu tidak lagi populer sebagaimana sebelumnya. Di kota-kota, minat melakukan perjalanan ke tanah suci praktis sudah mengendor. Tak ada seorang haji pun dari kota Mojokuto sejak 1930 dan tiap tahun sesudah perang, semua permohonan di distrik itu selalu berasal dari daerah pedesaan. Ketika saya menanyai orang- orang mengapa perhatian untuk naik haji sudah menghilang, mereka biasanya mengatakan bahwa orang tak lagi merasa perlu ke Mekkah untuk memahami Islam karena ada banyak sekolah yang baik untuk itu di Indonesia: bahwa orang kota lebih suka menanamkan kembali uang yang mereka tabung ke dalam usaha mereka daripada “membuangnya" untuk keperluan perjalanan ke Timur Tengah: dan bagaimanapun juga, naik haji tidak lagi merupakan hal yang begitu istimewa. (Informan itu naik haji pada akhir1920-an). Ketika ia masih kanak- kanak, hanya ada kurang lebih 15 orang haji di sini dan mereka sangat dihormati, masing-masing biasanya mempunyai 100 atau 200 pengikut. Namun, sementara waktu berlalu, makin banyak orang naik haji dan ini menurunkan rasa kagum kepada para haji karena mereka tak lagi luarbiasa. Sebelumnya, haji merupakan satu-satunya orang desa yang pernah pergi ke luar negeri dan melihat dunia, tetapi dewasa ini kita dapat pergi ke Surabaya hanya dalam waktu dua jam dengan mobil. Jadi, hal itu tidak lagi begitu luarbiasa. Propaganda Keagamaan dan Pejabat Keagamaan Desa Selain tugas-tugas administratif, pegawai Kenaiban juga ditugaskan memberi penerangan kepada massa pedesaan tentang dasar-dasar Islam dan tentang apa yang sedang diusahakan oleh Departemen Agama, tugas yang mereka laksanakan dengan berkeliling ke desa-desa di wilayah kecamatan itu untuk memberikan ceramah mengenai hal-hal terkait dengan tugas kantor itu. Haji Arifin (khotib, berpidato di sebuah desa dekat kota) berbicara mengenai perkawinan dan perceraian. la mengatakan bahwa KUA berkeinginan “memperbaiki perkawinan” dewasa ini. la mengatakan, perkawinan merupakan masalah yang penting untuk Indonesia yang sedang membangun diri menjadi negara kelas satu. Perceraian, katanya, buruk bagi perempuan dan anak-anak pada khususnya karena merekalah yang sesungguhnya menderita, tumbuh tanpa pemeliharaan, tak