Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 332
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 332 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

Setelah matahari terbenam, Setiap hari di bulan puasa, setiap orang makan sekenyang-kenyangnya, lalu berkumpul di langgar (atau masjid kalau mereka tinggal di dekatnya) untuk melakukan sembahyang malam dan sesudah itu, taraweh serta darus. (Tidak lama sebelum ini, orang mendengar anak-anak di sekeliling tiap langgar berteriak dengan riang, “Traweh. Traweh, Traweh”, dengan cara yang agak menyerupai teriakan dalam sepakbola). Taraweh terdiri atas shalat tambahan (shalat, bukan do'a yang bebas) sebagai tugas tambahan—walaupun sebenarnya shalat itu bersifat sukarela—selama bulan puasa. Darus adalah pembacaan Al Gur'an ayat demi ayati ini juga sukarela dan dirasakan kurang resmi dibandingkan dengan taraweh. Dalam kedua ibadah ini, Sekali lagi, ada perbedaan antara yang kolot dan modern mengenai cara yang benar untuk melakukannya. Mengenai taraweh, perbedaannya menyangkut jumlah raka'at yang benar dalam shalat yang harus dilaksanakan. Ada dua hadis yang sah mengenai ini, yang pertama mengatakan bahwa orang harus mengerjakan 23 raka'at dan yang lain mengatakan orang harus mengerjakan 11 raka'at. Sampai dengan datangnya modernisme, 23 adalah jumlah yang diterima di Jawa sebagai ortodoks dan orang NU masih melakukan 23 raka'at ini. Namun, orang Muhammadiyah-Masyumi kebanyakan mengerjakan 11 raka'at. (Masjid Mojokuto, walaupun sekarang didominasi oleh NU, tidak kembali melakukan 23 raka'at dari sistem 12 yang diperkenalkan oleh kaum modernis ketika mereka berkuasa). Orang NU mengatakan bahwa kaum modernis malas dan tidak begitu tertarik akan agama. Kaum modernis mengatakan bahwa walaupun jumlah raka'at yang mereka lakukan lebih sedikit, mereka lebih hati-hati melakukannya dan dengan pengertian yang lebih mendalam tentang maknanya, sedangkan kaum konservatif mengerjakan sembahyangnya sambil lalu saja. (Informan ini adalah seorang modernis). Sistem 11 lebih baru serta disebarluaskan oleh gerakan modernis di sini dan ditentang dengan tajam oleh Orang yang lebih kuno ketika mula-mula diperkenalkan. Ia diperkenalkan di masjid Mojokuto oleh Kiai Nazir (pendiri Sarckat Islam yang tua) di tengah-tengah oposisi yang keras—pada kenyataannya, begitu keras, sehingga orang NU kebanyakan pergi ke tempat lain untuk bersembahyang, ke langgar mereka sendiri dan sebagainya. Alasan mengapa sistem 11 disukai oleh kalangan modernis adalah karena di samping fakta bahwa ia berasal langsung dari Hadis Nabi, sedangkan sistem 23 berasal dari sahabatnya Umar, juga dimungkinkan


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 332 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi