Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 17 Latarbelakang dan Dimensi Umum Kepercayaan serta Etiket Priyayi Perkembangan “Tradisi Agung” Adalah Robert Redfield yang telah menunjukkan jika pemburu atau orang desa yang belum beradab itu pra-melek-huruf (pre-literate), maka petani itu buta huruf.! Ketika orang mulai menetap di kota-kota kecil dan besar—di Jawa, orang tampaknya mulai melakukan hal ini tak lama sesudah tahun Masehi dimulai—maka terjadilah perpecahan (yang disebut Redfield sebagai transformasi) dalam tradisi budaya homogen dari suku yang bisa mencukupi dirinya sendiri. Pasalnya, tradisi budaya ini sekarang harus melayani dua struktur sosial: kota yang canggih dan secara ekonomis bergantung kepada desa serta struktur desa yang bersifat dusun dan secara budaya bergantung kepada kota. Dari kepompong kesukuan yang melihat ke dalam dan mengungkung, muncul sebuah tradisi ganda dimana elaborasi kota dalam pola estetis, etis, politis, kemiliteran, keagamaan dan ekonomi, diimbangi di daerah pedesaan oleh elaborasi teknik pertanian yang semakin efektif untuk mendukung usaha yang terspesialisasi itu. Terdapat elite budaya yang basis kekuasaan utamanya terletak pada kontrol mereka atas pusat sumber simbolik masyarakat (agama, filsafat, seni, ilmu serta terpenting dalam peradaban yang lebih kompleks, penulisan). Selain itu, ada petani-petani pekerja keras yang praktis dan subordinat, yang basis kekuasaan utamanya adalah kontrol mereka atas sumber bahan pokok masyarakat, yakni persediaan pangan. Keduanya menjadi saling bergantung satu sama lain secara simbiotik, dengan kedua varian tradisi saling memantul satu sama lain seperti dua cermin yang saling berhadapan, yang satu menangkap pencerminan yang lain secara samar-samar. Kita tidak akan menemukan petani tanpa kaum ningrat (gentry) atau ningrat tanpa petani.