Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
disusunnya dari Arnold Toynbee dan Gordon Childe, antara apa yang ia sebut dengan “literati" serta “inteligensia”. 'Dalam menekankan adanya dua aspek berlawanan mengenai fungsi serta peran kaum terpelajar dalam peradaban awal dan kemudiat Childe dan Toynbee menunjuk kepada perbedaan antara dua jenis orang terpelajar yang mungkin memerlukan istilah pembeda. Childe terkesan oleh pemisahan antara keterampilan dan kesusasteraan pada masa awal peradaban. Ia terkesan pula oleh “sikap skolastik" yang ditumbuhkan para pegawai yang menuliskan kisah-kisah serta pengetahuan tradisional dan yang kemudian mengembangkan filsafat serta ilmu pengetahuan eksakta. Beberapa dari mereka ini lalu menjadi penjaga dan penerjemah kitab-kitab suci. Dari aspek fungsi mereka yang bersifat internal dalam mengembangkan peradaban, kita bisa menyebut jenis orang-orang baru ini sebagai literati. Kaum terpelajar Cina menjadi contoh dari jenis ini. Orang-orang ini terbungkus dalam budaya yang sudah menjadi peradaban. Mereka memajukannya terus ke fase yang lebih sistematik dan reflektif.... "Toynbee, di pihak lain, menulis tentang fungsi orang-orang terpelajar yang bertindak sebagai mediator antara masyarakat tempat mereka berasal dengan beberapa peradaban lain dan asing yang berhubungan dengannya. Orang-orang ini telah belajar sesuatu yang berbeda dari budaya masyarakat mereka sendiri. Mereka telah mempelajari “lika- liku peradaban yang mendesak masuk sejauh yang diperlukan oleh masyarakatnya sendiri agar mampu, lewat perantaraan mereka, memegang budayanya sendiri dalam lingkungan sosial dimana kehidupan tidaklagi berjalan menurut tradisi setempat dan semakin menuruti gaya yang dipaksakan oleh kebudayaan yang mendesak masuk kepada orang- orang asing yang berada di bawah dominasinya”....Toynbee menyebut orang-orang ini dengan sebuah istilah yang diciptakan untuk mereka di Rusia, yakni inteligensia. Berbeda dengan literati, anggota kaum inteligensia “dilahirkan untuk menderita”. Ia adalah anggota dua dunia, bukan satu: ia adalah “orang marginal”. Peradaban yang mendesak masuk yang lika-likunya telah dipelajari oleh inteligensia Jawa tentu saja adalah versi Belanda tentang Barat. Selain mistisisme, panteisme dan etiket istana, dalam kehidupan priyayi, ada elemen borjuis kecil biasa yang sumbernya tak sulit diduga. Di kalangan priyayi dapat kita temukan perempuan yang menyulam, memberi hadiah perkawinan, melengkapi rumahnya dengan mebel barogue yang berat dan menghiasi dinding rumah temboknya yang berbentuk kotak—akan tampak tidak ganjil kalau itu terjadi di Den