Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dan sebagainya. Akan tetapi, dalam arti kedua ini, ia juga adalah “arti tertinggi”—makna terdalam yang dicapai orang berkat usaha mistik dan yang penjelasannya memecahkan semua ambiguitas eksistensi dunia. Rasa, kata salah seorang informan saya yang artikulatif, sama dengan hidup: semua yang hidup memiliki rasa dan semua memiliki rasa, pasti hidup. Atau apa pun yang hidup mempunyai makna dan apa pun yang mempunyai makna, hidup. Jika definisi pertama atau yang sensasionalis mengenai rasa menunjukkan baik rasa dari luar (rasa di lidah dan kulit) maupun dari dalam (emosi), maka definisi rasa yang kedua atau semantik, menunjukkan baik makna kejadian-kejadian lahir, dunia perilaku luar dari suara, bentuk serta gerak-gerik maupun kejadian-kejadian batin yang jauh lebih misterius, dunia kehidupan dalam yang berubah-ubah. Perubahan-perubahan yang dilakukan orang Jawa terhadap akar kata yang artinya beragam ini begitu banyak dan luarbiasa konsistennya hingga nyaris memberikan sebuah gambaran lengkap analisis fenomenologis terhadap pengalaman manusia yang dipakai oleh priyayi sebagai dasar pandangan dunia mereka. Ngrasani berarti menggunjing orang lain. Ngrasakake berarti bersimpati atau “ikut merasakan” seseorang atau sesuatu. (“Usaha saya rugi" keluh seorang pemilik toko kepada saya, “Anda bahkan tak bisa ngrasakake itu”. Orang yang dianjurkan bekerjasama akan diminta untuk saling ngrasakak6). Rerasan (saling rasa satu sama lain) berarti diskusi atau perbincangan, biasanya dengan sengit. Sarasa (menjadi satu rasa) berarti berada dalam harmoni, bersepakat. Mirasa berarti mempertimbangkan sesuatu, memikirkan sesuatu. Krosa merujuk pada “perasaan" sebagai kata benda abstrak: jadi krasa bingah (bingah—“bahagia”) berarti kebahagiaan. Krasan berarti “merasa di rumah”, merasa enak dalam situasi dimana kita berada, menjadi biasa dengannya. (Apa kita krasan di Jawa?”—yakni, apakah kita betah di Jawa? Apakah kita sudah terbiasa dengan panasnya, makanannya, kebiasaannya, sehingga hal itu tak lagi mengganggu keseimbangan batin kita? Yang terakhir ini merupakan padanan Jawa untuk perkataan Inggris dalam menanyakan orang asing yang berkunjung: “How do you like America?"). Rasa-pangrasa berarti saling “merasa” satu sama lain secara sementara dan hati-hati untuk menahan perasaan seseorang dalam penyembunyian ketidakpercayaan satu sama lain, sebuah pola priyayi yang khas. Rumangsa berarti menyadari atau memahami sesuatu. Sebagaimana J. Gonda kemukakan