Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dalam bukunya, Sanskrit in Indonesia," dua makna rasa—“makna tertinggi" atau “signifikansi yang tersembunyi” dan "sensasi sentuhan”, “rasa (taste)” atau “perasaan dalam”—sebenarnya diambil dari dua akar kata Sansekerta yang berbeda. Namun, seperti yang dikemukakannya juga, di Jawa modern, “kata... yang terakhir... benar-benar telah bercampur dengan yang pertama”. Dan analisis keagamaan priyayi didasarkan atas percampuran ini. Dengan menganggap rasa memi i arti “perasaan” dan “makna”, kaum priyayi telah mampu mengembangkan analisis fenomenologis tentang pengalaman subjektif ke mana segala yang lain dapat dikaitkan. Karena pada dasarnya “rasa" serta “makna” adalah satu dan dengan demikian pengalaman religius tertinggi yang subjektif juga merupakan kebenaran religius tertinggi yang objektif, sebuah analisis empiris atas persepsi ke dalam pada saat yang bersamaan menghasilkan analisis metafisis atas realitas objektif. Dengan ini, cara khas dalam mempertimbangkan perbuatan manusia, baik dari sudutpandang moral, estetika maupun keagamaan adalah dengan ukuran kehidupan emosional individu yang melihatnya, baik dari dalam ataupun dari luar. Semakin alus perasaan seseorang, semakin tajam pengertian seseorang, semakin tinggi watak moralnya dan semakin cantik pula aspek-aspek luar seseorang. Karenanya, pengelolaan ekonomi emosi seseorang menjadi minat utama dengan ukuran semua yang lain pada akhirnya dirasionalisasikan. Orang yang tercerahkan secara rohaniah menjaga keseimbangan psikologisnya baik-baik dan terus berusaha menjaga stabilitas ketenangannya. Tujuan dekatnya adalah ketiadaan gerak emosional karena nafsu adalah rasa kasar yang hanya cocok untuk anak-anak, hewan, petani dan orang asing. Tujuan akhirnya yang dimungkinkan oleh ketiadaan gerak ini adalah pengetahuan, pemahaman langsung atas rasa tertinggi. Merasakan semuanya adalah mengetahui semuanya. Paradoksnya, itu juga berarti tidak merasakan apa-apa—tetapi kita akan sampai kepada persoalan itu kemudian. Keseimbangan emosional, kedataran afeksi tertentu, dengan demikian, adalah keadaan psikologis paling berharga, tanda watak yang benar-benar alus. Karena bentuk-bentuk yang diambil kehidupan berubah-ubah, dari keseluruhan yang tak teratur pada eksistensi hewan naik melalui petani yang hanya sedikit beradab ke priyayi-tinggi yang sangat beradab dan akhirnya, melalui raja yang suci ke Tuhan yang tak terlihat, tak teraba, tak terasa (kecuali secara mistik) serta mandiri,