Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
bentuk rasa juga berubah-ubah dari aktualitas kasar nafsu dasar, melalui ketenangan rohaniah priyayi sejati, ke rasa tertinggi, dimana rasa hanya merupakan makna saja. Suka dan duka, kata orang Jawa, berhubungan secara tak terpisahkan serta saling menyiratkan, seperti atasmenyiratkan bawah. “Sekarang senang, nanti susah. Sekarang susah, nanti senang” mungkin adalah ungkapan priyayi yang paling banyak dikutip. Orang yang benar-benar baik mencoba melampaui senang serta susah sebagaimana kalangan mistik kita mencoba mengatasi baik dan buruk. Jika kau dapat menenangkan hati nuranimu Kau akan mampu membangun tembok di sekitarnya: Kau tak akan perlu menjadi atau merasa rakus, Menginginkan ini, itu dan yang lain lagi. Karena satu-satunya yang diterima orang dalam hidup Hanyalah senang dan susah. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara orang kaya Dan orang miskin yang membawa beban sepanjang jalan. Kalau kau senang sekarang kau akan susah kemudian. Kalau kau terima kesusahan, ia akan hilang sepenuhnya. Bait dari sajak informan saya ini patut dikomentari. Perkataan yang saya terjemahkan dengan “menenangkan” (puntu) sebetulnya berarti memikirkan dengan sungguh-sungguh, atau lebih tepat, berkata kepada diri sendiri agar tidak merasakan sesuatu yang biasanya akan dirasakan secara mendalam. Seorang informan yang dimintai sebuah contoh mengatakan: “Apabila orangtua saya meninggal, saya tentu sangat sedih. Akan tetapi, kalau saya katakan kepada diri sendiri, 'Oh, mereka sudah tua dan setiap orang harus mati pada suatu saat," maka sayaakan merasa tenang—perbuatan ini disebut puntu”. Perilaku seperti ini, dari pengamatan saya, merupakan mekanisme pertahanan utama orang Jawa: Ketika Pak Arjo (tuanrumah saya yang rumahnya kemasukan pencuri ketika dia tak ada di rumah) pulang ke rumah setelah pencurian itu, ia tidak mengatakan apa-apa kepada Bu Arjo tentang hal itu untuk beberapa saat. Pada kenyataannya, sesudah saya masuk, tidak lama setelah ia kembali, ia berbicara kepada temannya sesama buruh kereta api dan mengatakan bahwa banyak yang terjadi di sini juga, tetapi ia hanya mengabaikannya serta terus berbicara tentang soal lain....