Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
priyayi Mojokuto, dimana tak seorang pun demikian tinggi untuk bersikap congkak kepada orang lain. Persoalan serupa muncul juga kalau pangkat dan umur bertentangan. Apa yang harus diperbuat seorang tua yang tidak punya kedudukan ketika berhadapan dengan anak muda yang berpangkat tinggi (atau sekarang ini, berpendidikan tinggi): atau seorang priyoyi melarat yang berhadapan dengan seorang pedagang kaya? Persoalan ini sebagian diselesaikan oleh kenyataan bahwa pola andap-asor maupun pemakaian bahasa bukanlah soal yang mutlak bersifat perendahan yang menghina ataupun kecongkakan bangsawan, melainkan dapat diikuti secara bertingkat-tingkat. Hal ini, pada kenyataannya, baru setengah dari kesenangan yang ada. Priyayi bermartabat dapat mengekspresikan semua nuansa kedudukan (dan penghinaan) yang kebanyakan tidak tertangkap oleh pengertian Barat samasekali dan seorang pemain yang lihai bisa membuat seorang yang baru gemetar tak bergerak. Sebagaimana diutarakan seorang Jawa, “Saya mempunyai seorang teman yang sangat andap-asor (kepada saya) sehingga saya merasa malu kepadanya karena saya tak bisa berlaku seperti itu. Ketika saya akan menjawabnya, saya hendak bersikap andap-asor juga, tetapi tidak bisa. Karena itu saya merasa malu”. Dalam arti tingkahlaku, pola andap-asor pertama-tama terdiri atas segala macam tindakan menunduk karena orang Jawa mengartikan metafora fisik dengan sungguh-sungguh, mengasosiasikan ketinggian dengan kedudukan yang tinggi. Pada masa lalu (dan orang masih melihatnya sekali-sekali di kalangan priyayi di kota-kota besar) para pelayan menyajikan makanan sebuah keluarga dengan berlutut dan penghormatan yang benar dari orang yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi adalah dengan berlutut serta menunjukkan isyarat menunduk (dua tapak tangan bersama dengan kedua ibu jari di depan hidung dan “anggukan horizontal” kepala) ke arah lutut orang yang lebih tinggi atau malah ke arah kakinya. Saya melihat ini dilakukan hanya sekali di Mojokuto—oleh seorang pelayan tua yang datang mengunjungi nyonya besarnya dulu, isteri seorang priyayi tinggi. Hal emacam ini sekarang dianggap terlalu ekstrem, tetapi usaha keras untuk menjaga kepala sendiri lebih rendah dari kepala atasannya masih banyak terjadi. Demikian juga adat tuanrumah untuk tidak duduk di meja tamu? kalau seorang tamu penting berkunjung, tetapi duduk di kursi yang rendah di samping dan belakang tamu. Mempersilahkan yang lain untuk lebih dulu duduk di tempat yang paling baik dan memperkecil arti kemampuan, kekayaan serta keberhasilan diri sendiri adalah bagian dari pola yang sama.