Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
semacam kegelisahan bilamana dua orang Jawa, khususnya kalangan priyayi, bertemu untuk pertama kalinya karena masing-masing harus menentukan pangkat pihak yang lain agar masing-masing dapat menggunakan bentuk linguistik yang tepat dan menerapkan pola andap- asor dengan tepat. (Ada beberapa petunjuk: pakaian, pekerjaan, sikap). Kalau keduanya sama derajatnya atau hampir sama, maka keduanya akan menggunakan pola andap-asor dan saya telah menyaksikan banyak percakapan priyayi yang tampaknya hampir seluruhnya terdiri atas usaha masing-masing pembicara untuk menempatkan dirinya pada posisi yang lebih rendah, semacam persaingan keras untuk menjadi yang paling rendah. (Persaingan itu pura-pura, tentu saja. Kalau salah seorang diantaranya terang-terangan menerima kerendahan hati yang lain dalam situasi serupa, maka itu akan merupakan penghinaan besar). Kalau salah seorang peserta jelas sekali lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan yang lain—seorang pangeran dan orang biasa, pejabat tinggi dan rendahan, tuan dan pesuruh, orang dewasa dan anak- anak, orang kaya dan orang miskin (yang bagaimanapun merupakan situasi yang rawan karena kebanyakan petani abangan yang miskin tidak akan mau mengaku diri lebih rendah dari seorang pedagang santri)— persoalannya akan lebih sederhana. Orang yang lebih rendah mengambil polaandap-asor dan yang lebih tinggi mengambil pola yang lebih tinggi, kadang-kadang bahkan pola yang congkak, sekalipun hal itu dianggap tidak patut. Persoalan timbul dalam situasi “derajat hampir sama"— dalam memutuskan kasus-kasus yang berada di perbatasan, apakah yang dihadapinya benar-benar berada di bawahnya untuk memungkinkan pengambilan sikap yang lebih tinggi, atau sebaliknya, orang yang lain itu cukup tinggi untuk dibenarkan berlaku serupa itu. Tampaknya ada kekhawatiran umum pada banyak orang, kalau-kalau mereka akan ngrendahake (secara harfiah: merendahkan orang lain), yakni menghina orang yang lebih rendah dari mereka dan akan menghadapi ledakan kemarahan sebagai imbalannya. Orang harus selalu hati-hati dalam berbicara kepada orang yang lebih rendah, kata seorang perempuan karena mereka begitu mudah merasa terhina dan ketika merasa dihina, amarah mereka akan meledak. Akibatnya adalah kecenderungan untuk bergerak “seperti seekor ulat melata di air”: untuk hati-hati sekali menghindari salah langkah. Ada untungnya keragu-raguan itu: sehingga persaingan untuk saling andap-asor mungkin adalah yang paling lazim, setidaknya di lingkaran