Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
pindah, lebih baik saya saja yang pulang kembali ke orangtua”. Kemudian suaminya marah kepada setiap orang. Pertama-tama, ia menanyai isterinya: “Apa kamu yang menulis ini?" “Tidak”, katanya dan itu bukan tulisan tangannya. Lalu, ia mempersalahkan adik perempuannya yang juga membantah tuduhannya. Karena kedua orangtuanya tidak bisa menulis, maka jelas mereka berada di luar masalah. Menurut dugaannya, surat itu tentu ditulis oleh orang luar yang mau mengacau- kan rumahtangganya. Tidak ada kejadian apa-apa sesudah itu. Segala sesuatu menjadi normal kembali. Kemudian, suami itu menemukan kartu pos lain persis seperti yang pertama. Terjadi lagi pertengkaran. Ia kumpulkan seluruh keluarga dan menanyai mereka satu-satu tentang itu, tetapi tidak ada hasilnya. Lima kali kartu pos itu muncul. Akhirnya, sang suami pergi mencari rumah sendiri. Setelah ia pindah, segala sesuatunya tenang kembali. Sekarang semuanya menjadi baik kembali, tetapi tak seorang pun mengaku menulis surat-surat itu. Penggunaan perantara merupakan bagian dari pola yang sama (walaupun dalam menggunakan perantara, seorang priyayi terjebak di antara keinginannya yang besar untuk menjaga kerahasiaan urusannya dan keengganannya untuk menghadapi masalah dalam bentuknya yang telanjang). Beberapa priyayi Mojokuto meminjamkan uang, misalnya. Nyaris setiap orang tahu bahwa mereka mengerjakannya, tetapi mereka hampir selalu menggunakan perantara untuk mengatur pemberian pinjaman dan merahasiakan sedapat-dapatnya identitas mereka dari peminjam. Karena pihak peminjam sendiri seringkali akan menyuruh teman dekatnya sebagai perantara (atau kalau tidak akan menegaskan bahwa ia bertindak sebagai perantara dari orang lain), maka rantai proses ini bisa sangat berbelit-belit. Kepura-puraan agak dekat dengan ketidaklangsungan dan kebanyakan dari contoh di atas menunjukkan hal itu dengan jelas. Orang Jawa punya satu kata untuk kepura-puraan ini: 6tok-6tok. Ciri khas 6tok- 6tok, berlawanan dengan pola kita menyembunyikan hal-hal tertentu, bukan hanya ia lebih lazim dan pada umumnya diperkenankan (kadang- kadang disebut “bohong yang patut”), tetapi juga tidak memerlukan pembenaran yang jelas karena sifatnya serampangan saja. Saya meminta seorang informan mendefinisikan 6tok-6tok: Katanya: “Misalnya, saya pergi ke selatan dan Anda melihat itu. Kemudian anak saya bertanya kepada Anda: 'Bapak tahu ke mana ayah saya pergi?' Anda mengatakan tidak, €tok-€tok tidak tahu”. Saya bertanya