Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
para pemilih sepanjang hari, termasuk periode tegang yang hampir tak tertahankan ketika jumlah pilihan dihitung satu per satu dengan suara keras, orang tak henti-hentinya berkata kepada saya dengan nada amat memuji: “Lihatlah para calon itu—mereka mungkin terbakar di dalam, tetapi di luar mereka tidak menunjukkan perasaannya samasekali"”. Seorang pembicara politik di desa saya memulai pidatonya dengan mengatakan: “Tak seorang pun pernah mengatakan apa yang benar- benar ada dalam benaknya. Orang selalu 6tok-Etok dalam berhubungan dengan orang lain. Saya pun sama saja. Saya juga tak pernah mengatakan apa yang benar-benar ada dalam pikiran saya dan Anda tak akan bisa mengatakan bagaimana perasaan saya tentang sesuatu hal hanya dari perkataan saya". Pernyataan yang tampaknya merugikan diri sendiri itu bagi seorang politikus ternyata dianggap sebagai hal yang masuk akal oleh para pendengarnya yang mendengarkannya dengan sepenuh hati, seolah-olah ia sedang menyampaikan sesuatu. Akhirnya,ada penghindaran perbuatan yang mengesankan kekacauan atau kurangnya penguasaan diri. Menurut orang Jawa, perbedaan antara manusia dan binatang adalah bahwa yang pertama “tahu aturan”. Dengan “aturan”, kalangan priyayi memaksudkannya formalitas pembawaan diri, pengendalian ekspresi serta disiplin diri secara jasmani—kesadar- an konstan tentang diri sendiri sebagai objek persepsi orang lain dan karenanya, wajib menampilkan gambaran yang menyenangkan serta alus. Spontanitas atau gerak-gerik serta percakapan alamiah hanya cocok bagi mereka yang “belum Jawa”—yaitu orang gila, orang berpikiran pendek dan anak-anak. “Apabila hidup ini tak teratur”, demikian tulis penyair kita, “nilainya seperti daun kayu yang kering”, dan di bagian lain ia mempunyai sebuah bait yang utuh mengenai persoalan itu: Karena kalau kamu belum tahu Bagaimana meletakkan sesuatu menurut aturan Dan bagaimana menggunakannya menurut aturan, Kamu akan bingung, berkeliling ke sana dan ke mari, 'Salah melihat sesuatu sebagai kebalikannya. Kalau kamu melakukan sesuatu dengan cara yang kacau, kamu akan menemukan kesulitan Dan akan bingung karenanya. Ini bisa dikatakan sebagai kehilangan kemanusiaan. Dan karena kemanusiaan adalah ciptaan Tuhan yang terbesar, Kamu tidak boleh serampangan dengannya.