Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Disini, ia kembali menekankan dari sudutpandang perkembangan kerohanian individual hubungan antara keteraturan kehidupan luar dan kehidupan dalam. Keteraturan dalam kehidupan luar mengatur rangsangan sehingga mereka tidak akan keheranan, terkejut atau kaget. Dengan cara serupa, mengikuti teori “modal emosional”, kita harus memberi gambaran teratur pada orang lain agar tidak mengecewakan mereka. Di sini, orang akan menunjukkan perhatian yang besar terhadap sikap yang benar, pada pola tekstil yang abstrak dan lembut warnanya (terutama cokelat dan biru), pada gerak-gerik agung serta tutur- kata lembut, pelan dan rata. Ketelitian, pertimbangan masak-masak, pemisahan dengan cermat satu hal dari yang lain adalah modus prosedur yang tepat dan berlaku sebaliknya akan menempatkan orang dalam bahaya diguyu pitik—ditertawakan ayam. Etiket Berbahasa Namun, seluruh sistem etiket mungkin paling baik disimpulkan dan dilambangkan dalam cara orang Jawa memakai bahasa mereka. Dalam bahasa Jawa hampir tidak mungkin mengatakan apa pun tanpa menunjukkan hubungan sosial antara pembicara serta pendengar dalam arti kedudukan dan keakraban. Kedudukan ditentukan oleh banyak hal—antara lain kekayaan, keturunan, pendidikan, pekerjaan, usia, kekeluargaan dan kebangsaan, tetapi yang penting adalah pilihan bentuk bahasa dan juga gaya bicara dalam semua hal, sebagian ditentukan oleh kedudukan relatif (atau keakraban) para pembicara. Perbedaannya tidak kecil, seperti perbedaan antara du dan Sie. Untuk menyapa seseorang yang lebih rendah dari diri sendiri (atau seorang yang dikenal dekat) orang mengatakan Apa pada slamet, tetapi orang menyapa mereka yang lebih tinggi (atau seseorang yang dikenal, tetapi tak begitu dekat) dengan Menapa sami sugeng—keduanya bermakna “Apakah Anda sehat?” Panjenengan saking tindak pundi? dan Kowe6 seka endi? adalah pertanyaan yang sama (“Dari mana Anda?”), yang pertama ditujukan kepada orang yang lebih tinggi, yang kedua kepada yang lebih rendah. Jelas, sebuah obsesi yang khas berlaku di sini. Pada dasarnya, apa yang berlaku di sini adalah bahwa pola berbahasa orang Jawa mengikuti sumbu alus sampai kasar, di sekitar mana mereka mengorganisasi tingkahlaku sosial mereka pada umumnya. Sejumlah kata (dan beberapa imbuhan) diciptakan untuk membawa apa yang bisa