Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
paling umum di antara semuanya, dilihat dari tingginya jumlah pemakai. Bagan III menggambarkan dialek priyayi yang meskipun diucapkan oleh sekelompok orang yang relatif kecil jumlahnya, merupakan model berbahasa ideal bagi seluruh masyarakat. Kalimat yang dipilih sebagai contoh adalah: Apakah kamu mau makan nasi dan singkong sekarang? Kalimat Jawanya (bentuk rendah terlebih dahulu) adalah sebagai berikut: Apakah — :apa/napa/menapa kamu —— :kowe/sampeyan/panjenengan mau : arep/ajeng/bade makan — : mangan/neda/dahar nasi : sega/sekul dan : lan/kalijan singkong — : kaspe sekarang : saiki/saniki/samenika Angka-angka di samping bagan menunjukkan tingkat dan kalimat- kalimat di sebelah kanan, yang diperoleh dari membaca bagan itu di tiap tingkat, adalah kalimat yang tersedia bagi seorang pembicara dalam dialek tertentu. Rangkaian kalimat ini tidak hanya mewakili serangkaian kemungkinan teoretis saja. Semua variasi ini dipakai saban hari. Lagipula, orang Jawa mempunyai nama untuk masing-masing tingkat. Tingkat 3a adalah krama inggil, tingkat 3 adalah krama biasa atau krama sajai tingkat 2 adalah krama madya atau madya saja. (Ketiga tingkat tertinggi ini sering disebut basa saja atau bahasa walaupun bagi priyayi tinggi hanya dua yang pertama yang disebut basa). Tingkat 1a adalah ngoko madya atau madya saja dan tingkat 1 adalah ngoko biasa atau ngoko saja. Tingkat 1b yang merupakan bidang khusus priyayi, disebut ngoko sae (“ngoko bagus”) atau ngoko alus. Krama, madya dan ngoko—atau tinggi, menengah dan rendah— adalah tiga tingkat pokok yang menyatakan status dan/atau keakraban yang ada bagi para pembicara dalam bahasa itu. Ia menggambarkan serangkaian konjugasi berantai (menapa...bade...samenika: napa... ajeng...Saniki: apa...arep...saiki: dan seterusnya) yang kecocokan salahsatunya untuk satu makna tertentu (misalnya menapa/napa/ apa) akan menentukan kecocokan yang lain untuk makna yang bersangkutan (misalnya bade/ajeng/arep atau samenika/saniki/saiki dan seterusnya). Dalam beberapa kasus, konjugasi madya adalah sama