Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
dengan ngoko (misalnya lan): kadang-kadang sama dengan krama (misalnya sampeyan, neda, sekul), dan tentu saja, kadang-kadang konjugasi itu sama untuk ketiga tingkat seluruhnya (misalnya kasp6). Sebagai tambahan pada rangkaian konjugasi berantai ini, ada pula sekelompok kata khusus, kebanyakan bersangkut-paut dengan orang, bagian-bagiannya, milik dan perbuatannya yang berdiri bebas dari jenis-jenis konjugasi pertama dan digunakan untuk menaikkan tingkat pembicaraan yang ditunjukkan oleh pemilihan pertama yang tak terhindarkan, satu “derajat” lebih tinggi—atau lebih tepatnya, setengah derajat. Dahar dan panjenengan adalah kata-kata semacam itu dalam kalimat di atas, menaikkan tingkat 3, krama biasa (secara harfiah: krama “yang biasa” atau “yang umum”) ke tingkat 3a, krama inggil (krama “tinggi”). Pada tingkat ngoko, pemakaian kata-kata krama (misalnya samp6yan atau neda dalam contoh di atas) juga mempunyai efek penghormatan, meningkatkan ngoko biasa (tingkat I) ke ngoko madya (tingkat 1a). Karena perkataan krama yang digunakan dalam kalimat ngoko berlaku dalam arti sama dengan sebutan kehormatan khusus, maka ia bisa disebut sebagai “sebutan kehormatan rendah” sebagai lawan dari “sebutan kehormatan tinggi” yang khusus, seperti dahar, panjenengan. Akhirnya, penggunaan sebutan kehormatan tinggi dalam konteks ngoko menghasilkan tingkat 1b, ngoko sae. Akibatnya, sistem intra-dialek dari simbolisasi status terdiri paling banyak dari tiga “styleme” (tinggi, menengah dan rendah) serta dua jenis sebutan kehormatan (tinggi dan rendah). Sebutan kehormatan, setidaknya pada dialek-dialek yang digambarkan di sini, terdapat hanya pada styleme tinggi dan rendah, tidak pernah pada yang menengah." Jdadi, atas dasar berapa banyak styleme dan berapa jenis sebutan kehormatan yang biasa digunakan serta kombinasi mana yang berlaku, maka bisa dibedakan tiga “dialek kelas” yang dibagankan di sini. Dalam dialek non-priyayi, orang kota dan yang setidaknya agak berpendidikan (Bagan I), ketiga seyleme (tinggi, menengah serta rendah) dan kedua jenis sebutan kehormatan (tinggi serta rendah) biasa digunakan. Karena sebutan kehormatan tinggi terjadi hanya pada gaya bahasa tinggi dan sebutan kehormatan rendah hanya berlaku pada gaya bahasa rendah,'? maka pembicara dengan dialek ini memiliki lima kemungkinan yang diwakili oleh lima kalimat: 3a krama inggil (styleme tinggi dan sebutan kehormatan tinggi): 3, krama biasa (styleme tinggi tanpa sebutan kehormatan): 2, krama madya (styleme menengah tanpa sebutan