Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 374
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 374 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

dengan ngoko (misalnya lan): kadang-kadang sama dengan krama (misalnya sampeyan, neda, sekul), dan tentu saja, kadang-kadang konjugasi itu sama untuk ketiga tingkat seluruhnya (misalnya kasp6). Sebagai tambahan pada rangkaian konjugasi berantai ini, ada pula sekelompok kata khusus, kebanyakan bersangkut-paut dengan orang, bagian-bagiannya, milik dan perbuatannya yang berdiri bebas dari jenis-jenis konjugasi pertama dan digunakan untuk menaikkan tingkat pembicaraan yang ditunjukkan oleh pemilihan pertama yang tak terhindarkan, satu “derajat” lebih tinggi—atau lebih tepatnya, setengah derajat. Dahar dan panjenengan adalah kata-kata semacam itu dalam kalimat di atas, menaikkan tingkat 3, krama biasa (secara harfiah: krama “yang biasa” atau “yang umum”) ke tingkat 3a, krama inggil (krama “tinggi”). Pada tingkat ngoko, pemakaian kata-kata krama (misalnya samp6yan atau neda dalam contoh di atas) juga mempunyai efek penghormatan, meningkatkan ngoko biasa (tingkat I) ke ngoko madya (tingkat 1a). Karena perkataan krama yang digunakan dalam kalimat ngoko berlaku dalam arti sama dengan sebutan kehormatan khusus, maka ia bisa disebut sebagai “sebutan kehormatan rendah” sebagai lawan dari “sebutan kehormatan tinggi” yang khusus, seperti dahar, panjenengan. Akhirnya, penggunaan sebutan kehormatan tinggi dalam konteks ngoko menghasilkan tingkat 1b, ngoko sae. Akibatnya, sistem intra-dialek dari simbolisasi status terdiri paling banyak dari tiga “styleme” (tinggi, menengah dan rendah) serta dua jenis sebutan kehormatan (tinggi dan rendah). Sebutan kehormatan, setidaknya pada dialek-dialek yang digambarkan di sini, terdapat hanya pada styleme tinggi dan rendah, tidak pernah pada yang menengah." Jdadi, atas dasar berapa banyak styleme dan berapa jenis sebutan kehormatan yang biasa digunakan serta kombinasi mana yang berlaku, maka bisa dibedakan tiga “dialek kelas” yang dibagankan di sini. Dalam dialek non-priyayi, orang kota dan yang setidaknya agak berpendidikan (Bagan I), ketiga seyleme (tinggi, menengah serta rendah) dan kedua jenis sebutan kehormatan (tinggi serta rendah) biasa digunakan. Karena sebutan kehormatan tinggi terjadi hanya pada gaya bahasa tinggi dan sebutan kehormatan rendah hanya berlaku pada gaya bahasa rendah,'? maka pembicara dengan dialek ini memiliki lima kemungkinan yang diwakili oleh lima kalimat: 3a krama inggil (styleme tinggi dan sebutan kehormatan tinggi): 3, krama biasa (styleme tinggi tanpa sebutan kehormatan): 2, krama madya (styleme menengah tanpa sebutan


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 374 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi