Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 375
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 375 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

kehormatan): 1a, ngoko madya (styleme menengah dengan sebutan kehormatan rendah): 1, ngoko biasa (styleme rendah tanpa sebutan kehormatan). Dalam dialek atau idiom petani dan orang kota yang tak berpendidikan (Bagan 1I), biasanya terdapat dua styleme (menengah dan rendah) serta satu jenis sebutan kehormatan (rendah). Sebutan kehormatan itu hanya terdapat pada styleme rendah, menaikkan ngoko biasa menjadi ngoko madya." Jadi, kemungkinan mengekspresikan “makna status” bagi pembicara yang menggunakan dialek ini hanya ada tiga: 2, krama madya (styleme menengah tanpa sebutan kehormatan): la, ngoko madya (styleme rendah dengan sebutan kehormatan rendah): 1, ngoko biasa (styleme rendah tanpa sebutan kehormatan). Akhirnya, dalam dialek priyayi, styleme menengah—yang dianggap kasar—tidak berlanjut. Dengan demikian, ada dua styleme (rendah dan tinggi) serta sebutan kehormatan rendah dan sebutan kehormatan tinggi, yang tinggi terdapat baik pada styleme tinggi maupun rendah, sedangkan yang rendah hanya terdapat pada styleme tinggi. Ini memberikan lima kemungkinan: 3a, krama inggil (styleme tinggi tambah sebutan kehor- matan tinggi: 3, krama biasa (styleme tinggi tanpa sebutan kehor- matan): Ib, ngoko sae (styleme rendah, sebutan kehormatan tinggi): dan 1, ngoko biasa (styleme rendah tanpa sebutan kehormatan). Patut dicatat bahwa kalimat 3 dan 3a bisa dipakai oleh priyayi dan orang kota yang berpendidikan: kalimat 2 bisa dipakai oleh baik orang kota yang berpendidikan maupun yang tidak dan juga para petani: dan 1 serta la bisa dipakai oleh ketiga kelompok seluruhnya (walaupun, sebagaimana disebut tadi, ia cenderung untuk dihilangkan oleh kalangan priyayi yang lebih alus): Ib hanya khas digunakan oleh priyayi saja. Setelah melihat analisis formil yang ringkas dan sangat padat tentang masalah tingkat ini, kesan bahwa bahasa Jawa hanya merupakan satu bagian saja dari sistem etiket yang lebih luas dan, sebetulnya, merupakan model yang ringkas serta disederhanakan daripadanya, menjadi mudah dipahami. Pertama-tama, Sebagaimana telah dikemukakan, tingkat- tingkat itu sendiri mencerminkan kesatuan rangkaian dari kasar ke alus. Ngoko, tingkat 1, adalah bahasa dasar. Orang berpikir dalam bahasa ini, turun ke tingkat ini ketika desakan untuk mengekspresikan diri mengatasi keinginan menjaga kesopanan. Orang pada umumnya menganggap bahasa ini kasar, tanpa tedeng aling-aling, tak ubahnya seperti petani itu sendiri dan merupakan fondasi yang diperlukan untuk


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 375 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi