Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
menegakkan karya priyayi. Dan inilah alasan mengapa semua perkataan Jawa dalam laporan ini diberikan bentuk ngoko mereka. Kalau kita menaiki tangga tingkat dari ngoko ke krama (tingkat 3) dan krama inggil (tingkat 3a), cara berbicara pun bergeser pula: makin tinggi tingkat yang kita gunakan, makin pelan dan lembut kita berbicara—dan makin rata irama serta nadanya. Karena, dalam keseluruhannya, konjugasi yang lebih tinggi cenderung lebih panjang daripada yang rendah (kowe/sampeyan/panjenengan—dan untuk yang sangat dijunjung tinggi, panjenengan dalem—untuk "kamu": kene/ingriki untuk “di sini”). Tingkat bahasa yang lebih tinggi bila diucapkan dengan benar memiliki semacam kemegahan kenegaraan yang bisa membuat percakapan paling sederhana tampak sebagaimana upacara besar. Seperti bentuk-bentuk kesopanan pada umumnya, pola kesopanan berbahasa memodulasi, mengatur serta melembutkan proses interaksi sosial menjadi sesuatu yang alus, mengalir tak beriak, sunyi dan menenangkan secara emosional. Sudah ditunjukkan bagaimana pola etiket, termasuk bahasa, oleh orang Jawa cenderung dianggap sebagai modal emosi yang bisa ditanamkan untuk membuat orang lain merasa enak. Kesopanan adalah sesuatu yang diarahkan seseorang kepada orang lain: orang melingkari orang lain dengan tembok formalitas tingkahlaku (lahir) yang melindungi stabilitas kehidupan dalamnya (batin). Etiket adalah tembok yang dibangun seseorang di sekeliling perasaan dalamnya, tetapi secara paradoksal selalu merupakan tembok yang dibangun oleh orang lain, paling tidak sebagian. Ia mungkin membangun tembok semacam itu karena satu atau dua alasan. Ia dan orang lain setidaknya berkedudukan kira-kira sama serta bukan teman akrab. Karenanya, ia menjawab kesopanan orang lain terhadapnya dengan kesopanan yang sama. Atau orang lain itu jelas lebih tinggi dari dirinya sendiri, dimana ia, dalam rangka menghormati kehalusan spiritual orang lain yang lebih besar, akan membangun tembok untuk dirinya sendiri tanpa ada permintaan atau harapan agar orang lain mengimbanginya. Tentu saja ini hanya merupakan pernyataan kembali dari pola andap-asor yang dibahas secara lebih umum di atas. Namun, dalam arti bahasa adalah mungkin untuk menyatakan hakikat sebenarnya dari pola ini, inti etiket orang Jawa, dalam cara yang lebih persis, abstrak dan formal. Kalau kita mengambil enam tingkat (atau tiga tingkat dan tiga setengah tingkat) wicara yang ada dalam salahsatu dialek di Mojokuto,