Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 391
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 391 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Tabel terjemah Inggris belum dibuat.
Bahasa Indonesia Translation

dengan ketangkasan, improvisasi-improvisasi kreatif dan ketahanan fisik yang secara keseluruhan sangat mengesankan. Kisah-kisah Wayang Hampir seluruhnya, kisah (lakon) yang didramatisasi dalam wayang berasal dari Mahabharata. Kisah Ramayana—sering disebut dengan ejekan sebagai “kisah kera”, karena menonjolkan tokoh setengah kera Anoman dan tokoh-tokoh serupa—tidak digemari di Mojokuto. Saya tak pernah melihatnya dipertunjukkan di Mojokuto (walaupun saya melihatnya di Yogyakarta) dan tak pernah bertemu dengan orang yang menyukai kisah itu seperti kisah Mahabharata. Dalang informan saya mengatakan bahwa walaupun ia tahu kisah Ramayana, ia tak pernah mendapatkan kontrak untuk mempertunjukkannya. Mengenai cerita Majapahit, Kediri dan kerajaan-kerajaan purba lainnya, ternyata juga tak penuh dipertunjukkan, baik dalam bentuk wayang kulit maupun wayang golek di sekitar Mojokuto, meskipun seorang tua yang tinggal di dekat saya, terkadang mempertunjukkannya dengan wayang golek untuk hiburan sekali-sekali bagi kalangan abangan di kampungnya, sebagai sekadar kegemaran serta lakon itu tampaknya masih populer sebagai tradisi lisan. Di seluruh Jawa, ada beberapa jenis wayang, yang digolongkan menurut jenis boneka yang digunakan dan kisah yang dipergelarkan. Di Mojokuto, dalam tiap kesempatan, hampir semua wayang yang dipertontonkan mendramatisasi kisah-kisah Mahabharata. Dalam kisah Mahabharata itu ada tiga kelompok tokoh yang utama: 1. Dewa-dewi—para dewa dan para dewi yang dikepalai oleh Batara Guru (Siwa) dan isterinya, Batari Durga, termasuk Batara Narada, Sang Hyang Brama serta Batara Kala. Sebagaimana dalam epos Yunani, para dewa itu tidak selalu baik: Batara Kala, misalnya, hanya makan anak-anak, kecuali kalau anak-anak itu sudah dilindungi darinya dengan pertunjukan wayang yang khusus menggambarkan kelahirannya. 2. Satria—raja dan bangsawan kerajaan Jawa kuno. Menurut anggapan, “Zaman Ramayana” (di India) digantikan oleh “Zaman Mahabharata”, kemudian oleh “Zaman Buddha" (yakni periode kerajaan Hindu-Jawa seperti Kediri, Singosari, Majapahit dan sebagainya) serta akhirnya diganti oleh zaman sekarang. Jadi, di dalam teori, para satria adalah nenekmoyang orang Jawa sekarang,


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 391 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi