Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 396
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 396 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

biasanya hanya merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh siklus Mahabharata) menjadi sebuah tontonan yang berlangsung semalam suntuk. Wayang itu menyerupai sonata, demikian menurut kalangan cendekiawan Jawa yang terdidik secara Barat karena ia dibuka dengan eksposisi satu tema, yang diikuti oleh perkembangan dan variasi dari tema itu serta diakhiri dengan penyelesaian dan rekapitulasinya. Dari pukul sembilan sampai tengah malam, pemimpin-pemimpin politik berbagai kerajaan berkonfrontasi satu sama lain dan menyatakan jalannya cerita: seorang tokoh wayang ingin menikah dengan putri raja negara tetangga, negara yang dijajah ingin merdeka atau apa saja. Dari tengah malam sampai pukul tiga pagi, berbagai macam kesulitan ditampilkan: seorang lain juga menginginkan putri itu, negara imperialis menolak membebaskan negara jajahannya. Dan akhirnya, kesulitan ini dipecahkan di bagian akhir pada waktu matahari terbit—tentu dengan pertempuran dimana tokoh utama menang serta sesudah itu, ada perayaan perkawinan atau kemerdekaan yang diperoleh. Seorang informan mempunyai teori yang mendalam tentang mengapa wayang dibagi-bagi demikian. Ia mengatakan bahwa pembicaraan para pangeran dan diplomat yang alus, tetapi agak membosankan, ditempatkan di awal malam sebelum orang letih serta dibikin ngantuk dengan itu: pada tengah malam, ketika beberapa penonton mulai merasa ngantuk, para pelawak datang dan memulai periode pengembangan dan komplikasi serta menghidupkan segala sesuatunya dengan lelucon mereka yang kasar (salahsatu tugas utama mereka jelas untuk menghibur para tokoh wayang di saat mereka mendapat kesulitan): dan akhirnya, menjelang pagi, ketika orang benar-benar mau meninggalkan tontonan itu untuk tidur, perang besar dimulai, membangunkan orang dengan keriuhan dan dramatikanya yang bersemangat. Pandangan Abangan versus Priyayi Terhadap Wayang Sebuah pertunjukan wayang merupakan sejenis slametan abangan yang meriah sekaligus sebuah bentuk seni yang secara halus melambangkan pandangan dan etika priyayi. la secara harfiah dilihat dari dua sudut. Pada masa dahulu, perempuan dan anak-anak duduk di belakang layar dimana hanya bayangan wayang saja yang kelihatan serta laki-laki duduk di depan layar. Namun, sekarang situasi sudah


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 396 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi