Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
pada dasarnya bersifat spiritual, sebuah perlambangan di luar dari rasa yang ada di dalam: Saya berbincang dengan Pak Wiro (seorang juru gambar priyoyi), kepala Budi Setia, sebuah perkumpulan teosofi. (Kami sedang menonton wayang) la mengatakan bahwa wayang pada awalnya melupakan alat propaganda orang Hindu dalam menyebarkan agamanya. (Persis sama seringnya dengan apa yang orang dengar tentang wayang yang pada mulanya merupakan alat propaganda orang Islam dalam penyebaran agamanya). Ia mengatakan bahwa rakyat akan menerimanya lebih mudah daripada dengan buku tebal yang mereka enggan atau tak mampu membacanya dan bahwa Isa, Muhammad serta Kresna pada dasarnya sama karena semuanya naik ke langit dan merupakan utusan Tuhan.... Semua agama pada dasarnya sama. Salah seorang dari dua anak muda, yang duduk di sebelah saya dan mendengarkan dengan penuh perhatian serta merasa sependapat, mengatakan, “Ya, ada banyak jalan”. Wiro mengatakan bahwa dari depan layar tempat dalang, wayang memperlihatkan tubuh dan unsur luarnya, sementara dari belakang layar, dimana yang terlihat hanyalah bayangannya, ia menampakkan nyawanya, unsur dalamnya. Anak di sebelah saya mengatakan, “Ya, tetapi jiwa mereka memiliki perbedaan karakter, sebagaimana juga orang pada umumnya. Ada yang halus budinya, ada yang kasar”. Penafsiran Priyayi Tentang Wayang Jadi, apakah makna wayang bagi priyayi? Pada pokoknya, Mahabharata adalah kisah perjuangan antara saudara sepupu, Pandawa dan Kurawa, perjuangan yang berpuncak pada perang besar sesama saudara, Bratayuda, dimana jago masing-masing saling berhadapan. Arjuna membunuh saudara seibunya yang lebih tua, yaitu Karna, Bima membunuh Suyudana dan seterusnya. Dorongan yang langsung menyebut Pandawa adalah pahlawan, sebagai orang- orang “baik” dan Kurawa, yang tidak begitu jelas sifat penjahatnya, sebagai orang-orang “jahat”5 namun, mengidentifikasi tokoh-tokoh drama itu seolah-olah mereka adalah tokoh-tokoh drama moralitas abad pertengahan adalah salah pengertian yang serius. (Pandawa selalu berada di sisi kanan dalam wayang dan Kurawa di sisi kiri—sebuah hal yang mengingatkan kita akan drama alegoris dalam tradisi agama Kristen). Dikotomi moralitas yang absolut dari pikiran Barat pada umumnya merupakan hal yang asing bagi pandangan priyayi yang