Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 401
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 401 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

melihat Tuhan dalam segala hal, dalam yang baik maupun yang buruk, dalam penderitaan maupun kesenangan. Konflikantara Pandawa dan Kurawa adalah konflik yang tak kunjung berakhir—walaupun tampaknya akan berakhir dalam perang Bratayuda (sebuah episode yang sebenarnya hampir tak pernah dipertunjukkan di Jawa). Kebaikan dan keburukan, kesenangan dan kesedihan, cinta dan benci yang merupakan realitas yang terikat pada waktu, telah dikerdilkan serta dianggap tak berarti oleh latarbelakang yang abadi dan akhirnya amoral, yang mereka perangi habis-habisan. Keberanian dan kewajiban, yang merupakan nilai-nilai kehormatan feodal, dimantapkan dengan nilai-nilai keagamaan tentang penolakan dunia serta belaskasihan yang tampak berlawanan, dengan menyerukan sifat tak terhindarkan yang kosmik dari perbuatan manusia karena konteks ketuhanan dari perbuatan itu. Orang melakukan apa yang harus dilakukan hanya karena dewa-dewa mengharapkan dia berlaku demikian. Hanya lewat perbuatan yang tak dipengaruhi nafsu, menjalankan tugas yang tak terhindarkan dengan sendirinya, orang akan menemukan rasa damai Dalam mengikuti kecenderungan mereka untuk menemukan realitas tertinggi menurut perasaan mereka sendiri, untuk mengubah makna metafisik yang objektif menjadi pengalaman emosional yang subjektif, kalangan priyayi memberi Mahabharata, sebagaimana tampak dalam wayang, sebuah penafsiran psikologis, hampir psikoanalitis: Ia (seorang guru sekolah) mengatakan bahwa maksud utama wayang adalah untuk menggambar pikiran dan rasa di dalam, untuk memberikan bentuk luar kepada rasa dalam itu. Lebih spesifik lagi, ia menggambarkan konflik abadi dalam diri individu antara apa yang ingin ia lakukan dan apa yang menurut perasaannya harus dilakukan. Misalnya, orang ingin mencuri sesuatu dan pada saat yang sama, sesuatu di dalam mengatakan kepada kita untuk tidak melakukannya, mencegahnya, mengawasinya. Yang ingin melakukan disebut kehendak: yang melarangnya disebut ego (secara harfiah, kata yang dipakai adalah aku). Setiap hari, semua keinginan dan kecenderungan demikian mengancam menghancurkan seseorang, merusakkan pikirannya serta mengecewakan perilakunya. Kecenderungan ini disebut goda, yang berarti sesuatu yang mengganggu dan mengusik (seseorang atau sesuatu). la kemudian memberikan satu contoh lain. “Anda pergi ke warung kopi dan orang sedang makan di sana, lalu mereka mengajak Anda. Anda baru saja makan di rumah, sehingga Anda sudah kenyang: tetapi Anda ingin makan bersama mereka. Karenanya, Anda merasakan adanya perjuangan di dalam.


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 401 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi