Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Diagram saya memiliki arti bahwa bentuk dandang-gula memerlukan 10 baris: baris pertama harus berisi 10 suku bunyi dan mempunyai i sebagai bunyi hidup terakhir atau suku bunyi terakhir: baris kedua mesti memiliki 10 suku bunyi dan berakhir dengan bunyi a. Sinom memiliki 9 baris, yang pertama terdiri atas 8 suku bunyi yang berakhir dengan bunyi a dan seterusnya. Sajak yang disusun oleh pengarang tembang di Mojokuto untuk anak-anaknya, yang telah saya kutip berulang-ulang di atas, adalah dalam dandang-gula. Di sini saya akan mengutip sebuah bait dalam bahasa Jawa sebelum diterjemahkan—untuk menunjukkan bentuk dan, karena bait ini terkait dengan pandangan priyayi mengenai bahasa serta sajak, menghubungkan tembang dengan kompleks seni alus yang umum yang sudah saya uraikan. Rehning Jawa ahli olah budi Kudu weruh surasang basa Kang sinandi sasadone Kang kandas jron€ kalbu Hambukaa kekeran batin Jwa cawuh panjurasa Awit yen tan runtut Pangrembug€ tanpa guna Nora antuk munfangat€ kawruh batin Mung malah dadi wisa Karena orang Jawa adalah ahli dalam melatih rohani mereka, Mereka harus tahu perasaan mereka tentang kata-kata Yang makna tersiratnya tidak jelas, Yang terdampar di dasar hati. Membuka rahasia kehidupan batin: Janganlah mengacaukan kedalaman bahasamu: Karena jika kau tidak meletakannya, satu persatu, sesuai urutan yang benar, Omonganmu akan sia-sia, Kamu tak akan memperoleh manfaat dalam memahami kehidupan batin. Pemahamanmu yang kacau malah akan jadi racun. Di sini, kata-kata dipakai baik untuk menyembunyikan maupun menyampaikan makna: ia adalah bentuk lahir tempat kita menuangkan, tak pernah secara langsung, tetapi selalu tak langsung, perasaan batin kita. Kata-kata yang diartikan secara harfiah atau impresionistik tidak