Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
bedaya mengenakan korset beludru dengan bahu terbuka dan sarung batik berwarna cokelat putih. Sebuah selendang ganda yang panjang dan berwarna cerah tergantung di antara dua kaki yang setengah terlipat dari pinggang sampai ke lantai di sebelah depan. Kepala mereka dimahkotai dengan hiasan kepala yang berwarna hitam serta emas dan wajah mereka dibedaki dengan bedak kuning yang kita lihat dalam perkawinan Jawa (inilah “putri-putri" yang ditiru oleh pengantin Jawa). Mereka bergerak dengan begitu lemah gemulai, sehingga tiap gerakannya merupakan tantangan tenang terhadap anatomi dan gravitasi. Srimpi serta bedaya menyimpulkan teori orang Jawa tentang keindahan dan menunjukkannya kepada raja serta kalangan keraton. Dalam praktik, kostum yang digambarkan di atas hanya berlaku di kalangan keraton Surakarta (biasanya disebut Solo). Pakaian Yogyakarta sedikit berbeda, demikian juga tariannya. Gaya Solo biasanya dianggap agak lebih “lembut” dan “feminin”, sedang gaya Yogya agak “tegang” dan “maskulin”: perbedaan umum ini berlaku pada hampir semua kesenian kedua keraton itu—musik, tarian, sandiwara—dan pada sistem tatakramanya, tetapi bagi mata orang Barat yang tidak terlatih, perbedaan itu demikian kecilnya, sehingga bisa tidak terlihat samasekali. Bagaimanapun juga, karena berbagai alasan, Yogyakarta menurut tradisi lebih konservatif dan lebih menutup diri daripada Surakarta. Yang terakhir ini mempunyai pengaruh yang jauh lebih luas di daerah pedesaan dan menjadi model dalam hal keindahan bagi kebanyakan orang yang berada di luar lingkungan dekat istana. Ini termasuk Mojokuto, yang orang-orangnya hampir tidak pernah melihat gaya tarian Yogyakarta samasekali dan yang kalau menyebut kraton, yang mereka maksudkan selalu Solo. Cukup menarik bahwa dalam masa sesudah perang, situasi itu jadi terbalik dalam arti istana Yogyakarta yang dipimpin oleh sultannya yang berpikiran modern, telah menjadi sebuah pusat kesadaran politik dalam Republik yang baru, sedangkan Solo tertinggal di belakang dan tertambat pada sisa-sisa supremasi lamanya. Sejak 1920-an, nasionalisme lebih kuat pengaruhnya pada keraton Yogyakarta daripada Solo, yang tetap memiliki emangat pro kolonial sampai akhir, sehingga kepemimpinan inteligensia dari golongan priyayi lebih banyak datang dari Yogyakarta, sedangkan kepemimpinan literati sebagian besar tetap berada di Solo. Perbedaan gerak-gerik orang Jawa di dalam tari dan di luar tari tidaklah demikian tajam—sebagaimana bisa disaksikan orang dari