Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Ada tiga prinsip utama tari, esensi tari: Wirasa (rasa: wi- hanyalah awalan indah yang tak pernah digunakan kecuali oleh orang berpangkat tinggi)—filsafat, arah, “Weltanschauung mistis” yang melandasi tarian itu: “kemurniannya Wirama—musiknya (secara harfiah: tempo, irama). Wiraga—gerak, tarianitu sendiri. Harusada harmoni di antara ketiga prinsip ini. Semua makna, tetapi kita harus tahu wirasa untuk mengerti maknanya. “Kita harus selalu melihat pada tariannya,”" kata seorang informan Mojokuto kepada saya, “bukan pada penarinya". Di Mojokuto ada empat kelompok tari alus, tiga di antaranya dipim- pin oleh orang yang sama, seorang guru sekolah negeri yang juga seorang dalang (dan mengepalai sebuah organisasi dalang di wilayah itu yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pertunjukan, tukar-menukar bahan dan sebagainya, tetapi yang tampaknya jarang mengadakan pertemuan). Ia melatih menari srimpi dan wayang wong kepada sekelompok anak muda dari sekolahnya, membuat kontrak pertunjukan untuk mereka bila ada acara-acara seperti perkawinan serta khitanan yang diselenggarakan oleh priyayi dan abangan kaya, seperti kepala desa. Ia juga mengajar sekelompok laki-laki dan perempuan muda yang berumur belasan tahun atau sedikit di atas 20 tahun yang tergabung dalam serikat buruh kereta api, sebuah organisasi yang menaruh minat besar pada seni dan mempunyai gamelan serta departemen khusus untuk “olahraga dan kebudayaan”. Kelompok ini mengadakan pertunjukan di balai pertemuan serikat buruh pada berbagai peristiwa tertentu, seperti pada 1 Mei. Akhirnya, ia juga menyisihkan waktunya untuk mengajar tari srimpi kepada sekelompok gadis kecil di dalam sebuah organisasi yang disebut Langen Putera Mojokuto (Perkumpulan Rekreasi untuk Anak- Anak Mojokuto). Organisasi ini yang semula didirikan oleh seorang pensiunan pegawai negeri di Mojokuto, sebagian besar dijalankan oleh para pegawai pegadaian negeri serta beberapa pegawai negeri lainnya untuk mengajar anak-anak menari, main gamelan, menyanyikan tembang dan sebagainya—walaupun pada saat saya meninggalkan Mojokuto, ia mulai kehilangan banyak dorongannya. Akhirnya, ada kelompok tari murid-murid Taman Siswa? yang berlatih setiap minggu di rumah salah seorang guru Taman Siswa. Mereka mempertunjukkannya di berbagai perayaan Taman Siswa dan kadang-kadang di kantor kecamatan pada hari-hari besar nasional, walaupun harus bersaing dengan kelompok-kelompok lain untuk