Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 19 Peran Kesenian Rakyat Sandiwara Rakyat: Wayang Wong, Ketoprak dan Ludruk Dimulai pada abad ke-19 dan semakin meningkat pada abad ke-20, sebuah bentuk kesenian baru telah menanamkan akarnya di kalangan massa Jawa—yakni sandiwara panggung yang serius, tetapi lucu dan populer. Ada banyak versi dari bentuk kesenian ini—ketoprak di Jawa Tengah (“ditemukan” pada akhir 1923): ludruk Surabaya, sandiwara lelucon di Jawa Barat: dan bentuk wayang wong yang paling populer. Walaupun masing-masing cenderung mendramatisasi jenis kisah yang berbeda-beda' semuanya mempunyai kesamaan: pendahuluan yang lamanya setengah jam serta adegan lucu para pelawak rendahan dan/atau beberapa tarian alus: pokok cerita, yang selalu merupakan lelucon yang serius-lucu, yang apa pun sifat mistik dari isinya, tetap dimainkan secara realistik: peran pe- rempuan (biasanya) dimainkan oleh wadam: dan akhirnya, sebuah bentuk produksi komersial dengan rombongan profesional keliling, menonton dengan membayar dan dekorasi “teater”. Sandiwara ini tersusun dari berbagai bahan yang berasal dari bentuk seni zaman kuno, yang kadang-kadang sudah punah—para penari topeng, pelawak pedesaan keliling, upacara-upacara kuno, kesenian alus keraton—semuanya dituang menjadi satu campuran baru, sebuah konvensi teatrikal yang jelas sekali sangat dipengaruhi oleh bentuk-bentuk drama Barat, khususnya film. Karena Mojokuto terletak di tepi wilayah wayang wong serta ketoprak dan berada dalam wilayah ludrug, saya hanya akan membahas kesenian ini dan menitikberatkan pada bentuk kesenian yang belakangan, yang sejauh ini merupakan hiburan kesenian pribumi yang paling populer di Mojokuto. Wayang wong, ketoprak dan ludruk dipertunjukkan di teater kayu di pinggir selatan kota, milik seorang Cina, atau di pasar malam