Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Seorang pelawak yang ternyata bernama Rukun (secara harfiah berarti: “kerjasama”, “saling membantu”) masuk dan menyampaikan sebuah monolog pendek (ditandai dengan apa yang bagi hadirin merupakan selingan yang gembira) tentang orang yang minum minuman keras, berjudi dan kecelakaan yang ditimbulkannya. Kemudian, ia ditemani oleh pelawak kedua, Bawa (secara harfiah berarti "pemula”, “pelaksana” dalam arti “pengusaha" karena Bawa adalah tokoh yang paling penting dalam semua cerita dan dimainkan oleh sutradara-pemimpin rombongan keliling itu), yang ternyata menjadi tokoh sentral, tidak sebagai jagoan atau protagonis, tetapi dengan cara pelawak seperti itu, menjadi semacam katalis bagi yang lain, benang yang mengikat semuanya menjadi satu. 'Sesudah kedua pelawak itu melucu dan bercakap sebentar, Rukun mulai berbicara tentang Urip, yang berarti “hidup”, tetapi juga menjadi nama pelawak yang ketiga, yang kini sudah masuk. Rukun berbicara tentang betapa sulitnya kehidupannya, berkali-kali menggunakan kata urip. Rukun tidak melihat pelawak yang ketiga, tetapi pelawak yang ketiga mengira Rukun berbicara tentang dia dan mulai marah tentang beberapa hal yang dikatakan Rukun mengenai dirinya. Selama percakapan ini, Bawa mencoba memberitahu Rukun bahwa Urip ada di sana, melalui berbagai tanda serta isyarat, gerak muka dan sebagainya. Ketiga pelawak itu kemudian melanjutkan pembicaraan tentang orang keempat yang sombong dan ingin mereka kecoh. Mereka berdiskusi tentang “persatuan”. (secara harfiah, persatuan berarti “kesatuan”, tetapi kata itu digunakan untuk menyebut organisasi sama seperti orang Barat menggunakan kata “persaudaraan”. Karena ia merupakan kata yang lazim dalam kosakata politik nasionalis modern dan merupakan istilah Indonesia, bukan Jawa, maka dialog ini untuk sebagian merupakan satir politik). Mereka berbicara tentang perangkap-perangkap organisasi dan bagaimana setiap orang berusaha mendapatkan yang terbaik untuk dirinya sendiri dengan dalih saling menolong. Adegan berikutnya menampilkan orang keempat di rumahnya. Ada ketukan di pintu. 1a pergi ke pintu itu, tetapi Bawa masuk melewati pintu lain dan duduk. Ketika orang keempat itu kembali, Bawa berpura-pura memiliki rumah itudan berkata bahwa ia akan menjualnya. Setelah percakapan semacam i berlangsung sekitar 20 menit, Bawa pergi dan Rukun masuk. Rukun mengatakan bahwa ia hendak meminjam uang lalu berbicara panjang lebar tentang nasibnya yang buruk. Ketika orang keempat itu menolak memberinya uang, Rukun mencengkeram lehernya sendiri dan pura-pura mencekik diri sampai mati. Bawa kini masuk untuk memeras uang dari orang keempat yang kini ketakutan, sebagai upah tutup mulut. (Bawa menerima uang itu dengan gerak-gerik yang sangat lucu seakan-akan ia enggan menerimanya, mengangkat lengan kirinya dan menerima uang dengan tangan kanan di bawah lengan itu sambil membelakang —seolah- olah uang itu kotor—persis seperti tuanrumah dalam sebuah slametan