Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
berjalan dari pintu ke pintu di sepanjang jalan di kota, di pasar, bahkan di desa. Dalam hal terakhir ini, mereka seringkali tak lebih dari pengemis dan memang dianggap demikian. Mereka berdiri di depan sebuah rumah atau toko—muka mereka biasanya dibedaki tebal-tebal dengan perias muka berwarna putih, hasil perkembangan pola penari topeng lama—dan menyanyikan sebuah lagu untuk sejenak sampai seseorang memberinya 10 sen agar mereka lekas pergi. Beberapa di antara mereka lebih terampil dan ditemani oleh satu atau dua orang yang memainkan gamelan, menarikan tari srimpi dan bedaya tiruan yang buruk, yang dicampur dengan unsur-unsur dari sumber-sumber rakyat. Mereka juga menyanyikan semacam monolog-tembang dari jenis yang kurang sopan dan mengadakan tanya jawab yang mengandung arti rangkap dengan para pengiringnya. Rombongan kecil itu, kadang-kadang sebanyak dua atau tiga orang gadis serta setengah lusin pengiring (kadang-kadang dengan seorang penari pria), tetapi paling sering adalah seorang gadis saja dengan seorang pengiring, berjalan di sepanjang jalan, berhenti di depan rumah-rumah untuk menyanyi. Kadang-kadang orang memberi 10 sen atau setali agar mereka pergi lagi: namun, sering juga mereka tidak diacuhkan dan pergi sendiri. Akan tetapi, kadang-kadang orang “menyewa" mereka dengan membayar antara Rp 1,00 sampai Rp 2,50. Mereka pun mempertunjukkan seluruh permainan selama kurang lebih setengah jam, ditonton oleh kerumunan besar orang di sekeliling mereka. Karena gadis-gadis itu terkadang juga merupakan pelacur, maka kesenian itu berada di dasar tangga kasar alus dan karenanya, hampir seluruhnya terbatas pada lingkaran abangan saja. Yang agak mirip dengan kledek adalah jaranan, juga merupakan pertunjukan penari jalanan. Dalam jaranan ini, para penari mengendarai kuda dari karton (jaran berarti kuda) dan mengalami kerasukan hingga berlaku seolah-olah mereka sendiri kuda, berjingkrak-jingkrak, meringkik, makan butiran padi Guga cabe, pecahan kaca dan sebagainya), dicambuki dan seterusnya. Mereka juga merupakan rombongan keliling yang berkelana dari kota ke kota untuk bermain di jalan-jalan atau di pasar. Berikut ini sebuah gambaran dari catatan saya: Pada sore hari, serombongan pemain tari-kuda keliling lewat dan saya minta mereka bermain. Ada lima orang dalam rombongan itu. Seorang memikul seperangkat alat musik, gendang, gambang (xilofon gamelan), angklung (sebuah alat musik yang dibuat dari bambu dan dimainkan