Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
Cerita Rakyat Cerita rakyat Jawa, kisah-kisah yang tidak dimainkan dalam wayang, tetapi diceritakan secara lisan di Mojokuto, biasanya disebut dongeng. Termasuk di dalamnya kisah-kisah moral serta legenda di sekitar tempat-tempat keramat: dongeng-dongeng tentang zaman Hindu-Jawa yang menerangkan asal-usul peninggalan-peninggalan tua: dongeng- dongeng serupa yang ada hubungannya dengan kesaktian beberapa benda—keris, tombak, gong dan sebagainya—yang disebut dongeng- dongeng pusaka: dan dongeng-dongeng binatang. Satu contoh dari dongeng pusaka, yang jumlahnya ribuan, adalah sebagai berikut: Salah seorang wedana yang awal di Mojokuto, Pringgokusumo, adalah seorang yang sangat sakti. la memiliki sebuah tombak yang setiap malam menjelma menjadi ular. Nama tombak itu adalah “Kiai Upas”. (Upas berarti “pesuruh”, “pesuruh kantor”). 1a melingkar di sekitar pohon beringin: dan semua penjaga desa takut kepadanya karena kalau mereka tertidur, ular itu akan mengigitnya. Kemudian orang yang memiliki tombak ini pindah ke Tulungagung. Ketika tiba di sana, ia menimbulkan banjir besar di seluruh kota untuk membersihkan kota itu. Tombak ularnya juga berkeliling di pohon-pohon beringin di sana. Sekarang, setiap tahun dalam bulan Jawa Sura, diadakan berbagai slametan untuk tombak itu (yang masih tinggal di Tulungagung) dan orang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh. Setiap orang yang memasak untuk slametan itu harus bersih—rambut sudah dikeramas, tidak sedang datang bulan dan sebagainya. Banyak dalang datang dan mereka memainkan wayang. Namun, orang yang melihat tombak itu masih tidak sepakat tentang besarnya. Seorang mengatakan panjangnya satu kilometer, seorang lagi mengatakan satu inci. Kalau orang tidur di sebelahnya, ia akan membangunkan orang itu hingga berdiri tegak tanpa terlihat. Kebanyakan kisah benda pusaka panjang-panjang dan berbelit- belit, membuat orang datang dari tempat-tempat yang jauh untuk “menghormati"-nya—seperti gong di Ludoyo (sebuah kota yang berdekatan) yang sebenarnya adalah harimau yang berubah bentuk (dengungan gong itu merupakan raungannya). Gong ini ada di zaman dahulu, ketika orang-orang Ludoyo yang tidak punya lekukan di