Progress Donasi Kebutuhan Server — Your Donation Urgently Needed — هذا الموقع بحاجة ماسة إلى تبرعاتكم
Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000
BAB 20 Mistisisme Pembahasan kita tentang para priyayi berlangsung dari manusia lahir ke manusia batin. Setelah membahas etiket, bahasa dan kesenian mereka, kita berpaling sekarang kepada mistisisme, aspek religius yang khas dari kehidupan mereka. Mistisisme dilakukan baik secara perorangan maupun dalam sekte di Mojokuto. Sekte-sekte itu merupakan kelompok-kelompok keagamaan Sukarela yang kecil, biasanya mempunyai hubungan yang longgar—betul-betul sangat longgar—dengan cabang-cabang sekte yang sama di kota-kota lain dan dengan pimpinan pusat di salahsatu kota besar, biasanya di kota-kota bekas kerajaan. Mereka bertemu seminggu sekali, dalam banyak hal secara bergiliran dari rumah anggota yang satu ke rumah anggota yang lain, untuk berdiskusi dan bermeditasi. Dalam teori, orang bisa bermeditasi dan mempelajari kehidupan batinnya secara sendirian ataupun bersama-sama orang lain. Namun, melakukannya dalam kelompok dianggap lebih utama, karena meditasi individual terlalu banyak memberi kesan mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari seperti pertapa, yang tidak disenangi oleh kebanyakan orang. Karenanya, lebih mudah untuk melaksanakan kegiatan semacam itu secara teratur dan tak terganggu kalau orang menjadi anggota sebuah kelompok daripada mencoba melakukannya sendiri di rumah. Dalam sekte, orang yang lebih maju juga dapat membantu atau melatih mereka yang belum maju. Sekalipun demikian, beberapa orang, khususnya beberapa priyayi yang tertinggi dan merasa bahwa sekte-sekte itu tidak cukup alus bagi mereka, melakukan meditasi dan belajar sendiri atau secara informal, dengan satu atau dua orang teman karib. Ada lima sekte yang penting di Mojokuto: Budi Setia (hampir tak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, tetapi secara kasar berarti “Setia Dalam Pencarian Rasional Untuk Pemahaman”), Kawruh Beja