Loading...

Maktabah Reza Ervani

15%

Rp 1.500.000 dari target Rp 10.000.000



Judul Kitab : Agama Jawa - Detail Buku
Halaman Ke : 459
Jumlah yang dimuat : 577
« Sebelumnya Halaman 459 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi
Arabic Original Text
Belum ada teks Arab untuk halaman ini.
Bahasa Indonesia Translation

Teori Mistisisme Saya akan memaparkan ikhtisar saya dalam bentuk delapan postulat sebagai berikut: 1 Dalam kehidupan sehari-hari manusia, perasaan tentang “baik" dan “buruk”, “kebahagiaan” dan “ketidakbahagiaan” saling bergantung secara inheren serta tak bisa dipisahkan. Tak seorang pun bisa berbahagia sepanjang waktu atau tidak bahagia sepanjang waktu, tetapi terus-menerus berada di antara dua keadaan ini dari hari ke hari, darijam ke jam, menit ke menit. Variasi ini sama untuk semua perasaan—cinta, benci, takut dan sebagainya. Selanjutnya, tujuan hidup bukanlah untuk memaksimalkan perasaan yang positif dan meminimalkan yang negatif , yakni “pengejaran kebahagiaan” yang pada hakikatnya tidak mungkin, sebab maksimalisasi sebuah perasaan juga mengandung maksimalisasi perasaan yang sebaliknya. Maka yang menjadi tujuan adalah meminimalkan semua nafsu sedapat mungkin, membungkam semua itu untuk mengerti “perasaan” yang lebih benar, yang terletak di baliknya. Yang menjadi tujuan adalah tentrem ing manah, “kedamaian (ketenangan, ketenteraman) di dalam hati (tempat kedudukan emosi)". “Di bawah" atau “di balik" perasaan manusiawi yang kasar, ada makna perasaan dasar yang murni, rasa, yang pada saat bersamaan merupakan diri sejati seorang individu (aku) dan manifestasi Tuhan (Gusti, Allah) dalam diri individu itu. Kebenaran keagamaan yang dasar untuk seorang mistikus priyayi terletak dalam persamaan: rasa — aku - Gusti. Tujuan manusia adalah untuk “tahu” atau “merasakan” rasa tertinggi ini dalam dirinya. Prestasi demikian membawa kekuatan spiritual, sebuah kekuatan yang bisa digunakan untuk maksud baik maupun buruk dalam soal-soal duniawi. Hanya ada sedikit perhatian terhadap ganjaran di luar dunia ini: sepanjang hal semacam itu mungkin, ini merupakan mistisisme yang bersifat “duniawi"”. Untuk memperoleh “pengetahuan” tentang rasa tertinggi ini, orang harus memiliki kemurnian kehendak, harus memusatkan kehidupan batin sepenuhnya untuk mencapai tujuan tunggal ini, mengintensifkan dan memusatkan semua sumber-sumber


Beberapa bagian dari Terjemahan di-generate menggunakan Artificial Intelligence secara otomatis, dan belum melalui proses pengeditan

Untuk Teks dari Buku Berbahasa Indonesia atau Inggris, banyak bagian yang merupakan hasil OCR dan belum diedit


Belum ada terjemahan untuk halaman ini atau ada terjemahan yang kurang tepat ?

« Sebelumnya Halaman 459 dari 577 Berikutnya » Daftar Isi